dia

Posted in me on December 24, 2013 by namialus

berikan aku segelas minuman maka akan ku ciptakan seribu puisi untukmu agar kau tahu betapa luka itu sangat menganga, betapa perih itu sangat aku rasa, betapa dalam duka yang kau gores, kau takkan pernah mengerti akan semua itu karna setiap kata yang lahir akan sulit kau cerna karna ini bukan sekedar sebuah ungkapan, tapi ini sebuah luapan dari bendungan yang mulai terkikis waktu, aku singa yang terluka, aumanku menggelegar, semua orang menganggapnya kemarahan, semuanya tak pernah tau dalam tiap langkahku ada luka yang aku tahan ada duka yang aku simpan menjafi lipatan-lipatan kecil, ah andai saja kau mengerti, entah dimana dirimu kini, ku harap kau bahagia dimanapun kau berada kini, tak usahlah kau pikirkan aku disini apalagi mencoba untuk peduli, tersenyumlah, tertawalah, tak usahlah kau ceritakan pada anak-anakmu nanti bagaimana tentang kita dulu, kadang aku bertenya apakah tawamu masih serenyah kala itu, kala kita menertawakan diri kita, kala kita berusaha terlihat bodoh hanya untuk menghadirkan tawa di antara kita, entahlah, aku tak pernah lupa bagaimana cara kau tersenyum, bagaimana caramu merajuk, bagaimana caramu menentramkanku, aku ingat semuanya, aku masih mengingatnya dengan pasti, masihkah kau suka menengadah melihat bulan bintang dlm hamparan langit malam hanya agar air matamu tak jatuh ke bumi, ku harap kau sudah tak melakukannya lagi karna kini sudah tidak ada lagi yang perlu kau tangisi, masihkah kau mengingat debut ombak malam itu yang mengisi hening kita, karna mukut kita bungkan kala itu, hati kitalah yang berbicara sampai waktu memutuskan kita harus pulang. aku masih mengingat semua itu seperti aku mengingat kala ku melihatmu pertama kali.

perempuan venus

Posted in reality on December 9, 2013 by namialus

saya,
pria dari mars,
kamu perempuanku, perempuan dari venus,
menciptakan bintang itu tugas kita, tersenyum meneduhkan bumi, tetawa membuat riang penghuni ruang angkasa,
tak boleh ada pilu, tak boleh selama aku masih disini, mengiringimu,
selama aku masih bernafas, untukmu,
untuk senyum tawa dan bahagiamu,
impianmu, sang pelangi,
akan ku lukis, meski darahku sebagai merahnya nantinya,

kadang percikan tikai menyeruak saat kita tak lagi sadar kita terikat, kita saling butuh,
kita lupa bahwa kita sudah tak lagi aku dan kamu, saat aku lupa dan melukaimu, yang seharusnya aku payungi,
aku merasa bodoh, aku terlalu cadas,
mungkin karna aku berasal dari mars,
harusnya aku tahu kau perempuan venus yang begitu lembut, harusnya aku sadari sedari dulu itu,
indah, sangat indah, kala terakhir kita bersama di bumi,
hari terasa cepat dan malam tak terasa sunyi lagi,
kau tersenyum kala jemari kita terpadu, kala getaran di dada membuat kita bergetar dalam aroma asing yang sangat menenangkan.

haruskan aku lupakan itu,
tidak, aku takkan rela, meski kadang itu nenyesakkan kala rindu bagai meteor yang menghantam dan menciptakan rasa sakit yang mendera, entah kau merasakan hal yang sama atau tidak,
aku tidak tahu, tapi sepertinya tidak, mungkin takkan pernah lagi,
tapi terimakasih atas yang sedikit itu, atas yang sekejap itu,
itu cukup indah, sangat layak aku simpan,
terimakasih telah pernah sempat mengisi tembok kosong di ruang hitamku.

aku menyayangimu, aku tak menyanggahnya, aku juga tak memanipulasinya,
ini aku, diriku adanya,
dengan kata yang sejujurnya dan lidah yang tak sedang berpura-pura.
bahagia, aku tak pernah sanggup menjanjikannya untuk ku berikan padamu,
tapi itu yang aku sedang susun,
itu yang aku mau, karna aku bahagia saat kau bahagia, seperti cermin, menebarkan bias yang sama,
maaf jika aku sempat mewarnaimu dengan pekat,

semoga kau hidup dalam mimpi-mimpimu setelah sekian lama mimpi-mimpimu hidup dalam dirimu,
jangan pernah padam,
tetaplah jadi bintang wahai kau perempuan dari venus. .

Mimpiku, Kamu!!!

Posted in me on December 9, 2013 by namialus

ternyata orang sepertiku baru aku sadari bahwa aku tak punya mimpi, karna mimpiku ternyata tak gidup dalam diriku, katna mimpiku bukan untuk diriku, karna mimpiku ternyata hanya ingin membahagiakan orang yang aku sayangi, entah itu bisa disebut mimpi atau tidak, karna hal itu tak independent, aku tak bisa berdiri sendiri, seperti ada rasa malu kala aku menyadarinya, aku yang terlihat begitu keras bagai bisa berdiri tanpa topangan siapapun ternyata menahan berat badanku srndiri aku tak mapu, menyedihkan. aku baru menyadarinya, aku menyadari itu kala aku tak sadar, dan kini aku sadar kenapa mimpiku terlihat sangat abstark kala aku berusaha menjangkaunya.
entahlah, entah memang sesederhana itu saja mimpi yang selama ini aku kejar, tapi nyatanya itu saja yang aku lihat saat ini. aku mulai bertanya apakah orang seindividualis aku merasa bahagia, merasa ada yang menembus cangkang keras diriku dan merasuki diriku dengan sangat halus dan itu cukup membuatku sangat berarti, cukup sebagai alasan kenapa aku ada di bumi indah ini, kenapa tuhan menciptakanku, ya itu sudah lebih dari cukup, setidaknya aku punya alasan kenapa aku madih hidup dan harus tetap hidup, untuk melihat orang yang aku sayangi tersenyum, itu saja, mungkin terlalu sederhana, tapi itu sangat indah di mataku.
bintang, ini tentang kamu, mungkin kalau harus ada yang lain, itu untuk wanita yang menghadirkanku di bumi ini, aku merasa hangat kala melihat senyum itu, senyummu, kala kau melepas semua bebanmu dan tertawa lepas, aku suka membuatmu tertawa meski aku harus membuat diriku terlihat bodoh, aku rela jadi apa saja untuk melihat senyum dan nendengar tawamu, apalagi cuma untuk terlihat bodoh.
kata rindu sebenarnya tak terasa cukup untuk mendeskripsikan apa yang ada dalam diruku, entahlah bagaimana aku harus menyebutnya, aku tak bisa menemukan kata yang tepat, yang benar-benar pas.
permainan, mungkin kau mengira kau sedang berada disana dan aku sedang menjebakmu, tidak, itu satu-satunya jawaban terjujur yang aku punya, yang bisa aku katakan karna aku rasakan, aku tidak sedang bermain, aju tidak sedang memakai topeng, aku tidak menipumu.
pernah aku membacanya, kalau tidak salah seperti ini, kadang kita harus meninggalkan orang yang kita cintai, bukan berarti kita berhenti mencintainya, tapi karna kita tahu bahwa dia akan lebih bahagia tanpa kita, sepertinya kata-kata itu sudah cukup bisa mewakili apa yang ada di benakku saat ini, mungkin semuanya sudah terlihat sangat terlambat, ya, sangat terlambat, percuma, karna kamu tidak pernah percaya dengan apa yang aku katakan dan mungkin tidak akan pernah, tapi mungkin juga tidak.
aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku kataka, namun kadang diam juga terasa sangat menyiksa, menyesakkan, terasa mencekik.

TERIMAKASIH, AKU MENCINTAIMU. .

KEJORA

Posted in me on October 20, 2012 by namialus

Gadis itu, aku memanggilnya bintang, sahabat anginku, yang kemudian menjadi nadi anganku, seseorang  yang ku kagumi pendiriannya, seorang yang kokoh agamanya, pilihan bijak untuk ia jadikan sandaran, seorang gadis pasca sarjana, yang awalnya ku kenal lewat angin, lewat dunia yang tak pernah nyata, bukan mimpi, seseorang yang harusnya aku temui untuk aku yakinkan hatinya, tapi aku tak ingin mengambilnya, aku juga tak ingn menjumpainya, bukan tak ingin, lebih tepatnya karna aku puikir mungkin sebaiknya tidak aku temui, karna aku selalu menaruhnya pada posisi terhormat, seseorang yang tak boleh ku sentuh, my untouch girl, begitulah aku menamainya.

Pertengkaran, lebih tepatnya percekcokan atau adu argumen selalu mewarnai percakapan kami pada awal aku mengenalnya, mungkin sampai saat ini masih ada saja, padahal mungkin hal itu bukan hal yang pantas diperdebatkan, hanya karna ego saja yang menolak kami saling menerima pendapat satu sama lain, padahal di lubuk kecil di dada ada segaris pembenaran atas pendapatnya, tapi mungkin terlalu kecil dan lemah untuk mengalahkan ego yang terlalu kuat dan selama ini kami anggap sebagai perisai sakti untuk tidak terlihat lemah, tidak terlihat kalah, padahal sebuah pengakuan tidak akan merubah apapun, tidak akan membuat kami saling mengecilkan, apalagi mengucilkan.

Nada suaranya yang rada alto dan serak serta tawanya yang renyah aku mengenalnya dengan baik, ia gadis yang baik, bahkan sangat baik, sangat jauh dari posisiku yang hitam, itu jugalah yang membuatku merasa nista dan tidak ingin menyentuhnya, tidak ingin  mengotorinya, tapi semuanya memang tak sesederhana itu jika hati ikut andil dalam sebuah perdebatan, yah awalnya aku sangat membencinya, ada hasrat yang menyala-nyala, hasrat untuk mengalahkannya, naluri pembunuh untuk membungkam kebawelannya dalam menyanggahku, tapi itu dulu, dulu sekali, bahkan kini aku sudah membunuhnya, tapi bukan dia yang aku bunuh, hasrat itulah yang sudah mati terkulai tak tersisa.

Aku mencoba meraba, merubah dari alur sebuah permainan menjadi sebuah nurani, tak mudah, sangat, tapi seperti yang aku pernah duga aku tak berhasil, logika kami masih berada di atas ring yang sama, di sudut yang berbeda, saat hatiku berbicara, nalarnya menjawab, dan ego kembali menjadi perisai, ah, andai saja perisa ini sudah retak dan bisa menjadi remah dalam sekali hunus, rasa, ya aku kembali punya rasa setelah sekian lama, rasa yang nyata bukan hanya bayi-bayi logika tentang kalkulasi, tapi itu membuatku lupa untuk memperhitungkan langkahku, sesekali aku mengingatkan diriku ‘she’s your untouch girl’, tapi ada penolakan ‘but i wanna hold her close, i wanna her by my side, what should i do?’ dan lorong gelap di depanku terlihat sangat panjang, sedangkan dia berada di ujung hilirnya, ‘kembalilah dalam sepimu, dia butuh matahari bukan kegelapan’ entah kata-kata itu merupakan belati penikam atau perisai, atau mungkin keduanya, karna saat aku mencoba menyentuh perasaannya, ia terlalu halus, dan tangan kasarku akan menghancurkannya.

Kini kami sakau, yah kami kehilangan candu, tapi mungkin itu lebih baik daripada kami meracuni darah kami lebih lama lagi, dingin aku rasa sebab kehangatannya tak lagi menyentuh, sepi aku rasa sebab tawanya tak lagi terdengar. Mungkin ada sebuah tanya tentang kehadiranku, yah aku yang selalu hadir di saat yang tepat dan menurutnya selalu pergi di saat yang tak diharapkan, dan memang mungkin sebaiknya aku tak pernah datang, tapi aku tak pernah datang dengan kepalsuan itu semua karna nurani, aku datang untuk membangunkan dia dari tidurnya, sebab ia sudah berada di ujung dan sebentar lagi akan jatuh, aku datang sebagai bisikan, sebuah isyarat yang mungkin tak kau tangkap, bangunlah bintang, berpijarlah, terangi sekitarmu, beri petunjuk mereka yang tersesat, tapi bukan aku, aku memang sudah tersesat, kehilangan arah sudah sekian lama, tapi aku sudah membangun duniaku disini, di belantara ini, bisikan malam, nyanyian sendu rembulan, dan tawa riang sang kunang sudah menjadi duniaku, mungkin aku sendiri, tapi aku tak pernah benar-benar sendiri, karna sepi, sunyi dan gelap sudah menjadi teman dekatku, tetaplah bersinar untukku, karna dari sini aku akan menikmati pijarmu, tersenyum meski senja meninggalkanku karna aku tahu saat malam menjelang kau akan hadir di sudut utara langit malamku, akan ku kisahkan pada embun, pada binatang-binatang malam, pada riak air, agar mereka menepikan lara dan menikmati senyum gemilangmu di atas sana, hingga pada suatu masa aku terkubur pekat tanpa sinar dan kaulah yang menjadi penuntun arah hatiku.

Ingin sekali aku katakan, saat terakhir mengenalku, kamu sekali lagi salah menafsirkan isyaratku, kamu selalu salah akan hal itu, kamu tak selamanya benar, tapi kebenaran selalu bersamamu, itulah kamu, tetaplah berjuang disana, maafkan dirimu, seperti aku memaafkanmu, maafkan masa lalumu karna masa depanmu adalah seorang pemaaf, matahari itu sudah berlalu meninggalkan pesan indah, semburat merah saga menjadi jingga kala senja, itu isyarat sudah saatnya kau bersinar, karnamu akan lahir embun bening yang selalu setia membelai kelopak. Jika setiap ungkapan lembut kau dustakan dan setiap niatan tulus kau ragukan lalu dengan apa aku harus datang padamu?. Aku menunggumu di sudut mata rembulan yang menyabit.

Mereka, aku!!!

Posted in me on August 20, 2012 by namialus

Ku ketuk pintu kamar itu, ku buka tanpa menunggu pemiliknya mempersilahkan dan langsung ku rebahkan diri di atas kasur yang sudah berwarna agak kecoklatan, dua orang penghuni kamar itu sudah hafal betul dengan aksiku ini, sudah terlanjur terbiasa, dan seperti biasa juga, mereka tak akan menoleh sedikitpun dan tetap melanjutkan kesibukan masing-masing seolah-olah aku tak pernah disana, kadang cuma menyapa, atau sesekali basa-basi seperti “capek bro pulang kerja?” dan seperti biasa pula pertanyaan itu tak pernah mendapat jawaban, karna aku tahu dia takkan menungguku menjawab pertanyaan tidak penting itu. Sebuah kamar berukuran tidak terlalu besar, warnanya pekat cenderung gelap, ada dua orang penghuni kamar itu, namun mereka tak memberi sekat, tapi tetap saja ada wilayah teritorial yang sudah saling mereka pahami, area  dalam yang jauh dari pintu adalah milik seorang pemuda kurus dengan kulit kecoklatan dan rambut yang selalu acak-acakan, seseorang yang tidak peduli dengan penampilan dirinya, pena, pensil, dan kertas-kertas yang selalu mengisi harinya, penyair bodoh begitulah teman sekamarnya memanggilnya, dan area yang satunya tentunya yang di dekat pintu, seorang pemuda paruh baya dengan kulit kuning dan rambut tersisir dan wangi, seseorang yang hari-harinya selalu bergelut dengan notebook membuat program-program aneh, desain web tidak jelas, dan diagram-diagram yang juga tidak kalah ribetnya, ilmuan gila, yah penyair bodoh itu memanggilnya seperti itu, julukan yang tak pernah mereka pedulikan, kondisi yang bertolak belakang, latar belakang yang berbeda dan pastinya obsesi yang tak serupa, namun itu tidak pernah mengusik pikiran mereka, sudah lama mereka sekamar dan nyaris tidak ada masalah berarti. “Seribu sembilan puluh lima” terdengar suara dari sudut kamar, “apa itu? Nomer togel?” sambil membenarkan letak kacamatax sahabatnya yang dari tadi terlihat serius dengan laptopnya menatap kearah pemilik suara tersebut dan si pemilik suara hanya menggeleng, “seribu sembilan puluh lima” ia mengulang lagi kata-kata yang hanya terdiri dari susunan empat angka itu, “ternyata kau tak sepintar yang aku duga” ia melanjutkan sambil tersenyum mencibir, “cobalah kau bagi tiga” lanjutnha, dengan cepat temannya memainkan tombol keyboard dan di layar monitor laptopnya muncul tiga angka hasil pembagian itu 365, kemudian dia memalingkan mukanya dari angka itu dan kembali menoleh ke sudut kamar, “tiga ratus enam puluh lima, terus ada apa dengan angka-angka itu?” tanyanya, sambil tersenyum pria kurus itu menjelaskan “tiga ratus enam puluh lima hari berarti empat puluh delapan minggu, dua belas bulan, atau satu tahun dan”, “seribu sembilan puluh lima hari artinya tiga tahun” ucap si ilmuan gila memotong penjelasan temannya. “kau menghitungnya?” tanyanya, dan pria kurus itu menggeleng “tidak, hanya saja waktu berjalan terlalu lambat, hingga aku bisa dengan jelas melihat setiap gerakannya”, “kau masih mengingatnya?” “dengan sangat jelas” “bukankah itu sudah sangat lama? Untuk apa lagi kau masih mengingatnya?” “bukankan kenangan dan masa lalu itu memang untuk selalu diingat?” “ya, tapi tidak untuk diratapi” “aku tidak meratapinya” Kemudian kamar itu seketika hening, hingga tiba-tiba dari sudut kamar kembali terdengar suara si pria kurus “sembilan belas september ini genap tiga tahun dari hari itu, hari dimana janji itu aku ucapkan, hari dimana ku melihatnya untuk terakhir kalinya, hati dimana ku hapus air mata di pipinya untuk terakhir kalinya, hari dimana kami tidak akan bisa berbagi lagi untuk pertama kalinya” “lupakan saja” si ilmuan memberi saran. “kenapa harus aku lupakan?” “karna kenangan itu membelenggumu” “aku tidak merasa demikian, aku biasa saja” “karna telah lama kau memakai belenggu itu hingga kau terbiasa, lupakanlah, ada banyak gadis yang lebih baik darinya” “memang” “lalu kenapa kau masih menyimpan dia sampai saat ini?” “karna dia pas, kau masih mengingatnya juga kan?” ucap si penyair tanpa memalingkan pandangan dari lantai. “apa maksudmu? Apa yang kamu bicarakan, aku sama sekali tidak mengerti” jawab si ilmuan dengan suara yang mulai meninggi seolah tersentak dengan pertanyaan temannya. “sudahlah, jangan berkata seolah-olah aku tidak tau apa-apa” jawabnya dengan suara tenang, “sampai kapan kau mau berpura-pura sudah melupakannya, sampai kapan kau akan berhenti memaksakan perasaan pada gadis-gadis itu, sudahlah hentikan” “apa maksudmu berkata seperti itu?” “berhentilah berpura-pura bahwa kau sudah melupakannya” ada nada tegas dalam kata-kata itu, kemudian ia melangkah mendekati si ilmuan kemudian berbisik “masih ingat dengan gadis jakarta itu?” Tanpa kata si ilmuan hanya mendesah dengan nafas yang terdengar berat. “jangan ada lagi gadis yang menjadi sepertinya karna kepalsuanmu” si penyair menasehati “bukan aku, tapi kamu yang menyakitinya” si ilmuan membela diri “hahaha, aku? Ya, mungkin aku yang harus memberi tahu kepadanya tentang kebenaran, karna saat itu kau hilang entah bersembunyi kemana, pengecut” “aku bukan pengecut, aku hanya, aku hanya” “hanya takut untuk berterus terang dan menyakitinya kan, dan kau memilih menghilang, kemudian membiarkanku menyelesaikannya”si kurus memotong “aku hanya ingin mencoba, mencoba menata kembali hatiku, mencoba menerima kehadiran wanita lain, apa aku salah?” “tidak” kemudian ia balik bertanya “lalu apa aku salah dengan masih mengingatnya sampai saat ini? “tidak” *** Dan akupun terbangun, tak ku temukan siapapun di kamar itu, ku langkahkan kaki ke depan cermin, ku lihat mereka berdua tepat di depanku, ku ambil selembar foto di dompetku, foto seorang gadis, gadis yang selalu mereka bicarakan. “manda” ucapku, kemudian kami bertiga mengangguk.
Tiba-tiba muncul sosok ketiga dibelakang dua pemjda di depanku, seorang pemuda jangkung dengan dagu keras dan mata yang tajam, dia tersenyum menyeringai, “akhirnya kau datang juga setelah lama tertidur lelap” batinku. “dimana dia?” ucapnya tanpa basa basi, “dia takkan datang” jawabku singkat.

Aku di mata kalian

Posted in me on May 28, 2012 by namialus

Hidup itu penuh tanda tanya, kita tak pernah tahu apa yang akan tejadi setelah ini, bahkan beberapa menit setelah ini, lantas bagaimana kita menyikapi setiap misteri di dalamnya? Hanya ada satu hal, lakukan yang terbaik yang bisa kalian lakukan saat ini, tekadang aku ingin sekali mengabaikan diriku, dan mencoba melihat kalian, seperti apa aku di mata kalian, seperti apa aku di mata abi n umiku, bagaimana mereka melihatku, bagaimana aku akan mereka kenang, begitupun di mata sahabat-sahabatku, dimata sanak keluarga, di mata adik-adikku, bahkan di mata orang yang tak pernah menyukaiku, seperti apa kelak aku akan dikenang, apakah seperti matahari yang bersinar atau mungkin malam yang pekat, aku tidak tahu, semuanya masih tanda tanya, dan sayangnya aku harus peduli pada hal yang satu ini, ingin rasanya aku menjadi pelita, bagai andromeda yang bersinar bagi mereka semua, tapi semakin aku menyalakan sinarku selalu saja hitam dalam diriku menjadi semakin besar, dan setiap dari mereka tentunya punya sudut pandang yang berbeda tentang segala hal termasuk tentang aku, dan itu adalah hak mereka untuk menilai dan seperti apa mengenangku, hal ini sangat bertolak belakang dengan logika-logika dan ilmu pasti yang selama ini aku gemari, karna tak ada yang pasti dalam hal ini, semuanya misteri dan tanda tanya besar, akankah aku dikenang bagai plato, aristoteles, socrates atau ilmuan-ilmuan besar lainnya, atau layaknya para penulis dan sastrawan, bahkan mungkin sebagai para ‘penjahat’ sekalass, mussolini atau hitler, taou setidaknya itu lebih baik daripada semua berlalu dan hilang begitu saja bagai asap ditelan langit, ta ada kenangan karna memang tak pantas dikenang, menjadi catatan kaki yang terbuang, benar-benar usang, hanya sampah, akankah demikian, aku harap tidak, aku harap ada setitik kata yang sempat aku hores dalam ingatan mereka yang pantas mereka kenang kelak, meski hanya untuk mereka simpan sendiri tak untuk dibagi, entah karna memang tak pantas diceritakan atau mungkin terlalu berharga untuk dibagi, sekali lagi entahlah, ,
Sempat aku berpikir setelah semuanya terlewatkan maka semua itu juga usai, mengabaikan sejarah, tapi aku salah, serajah itu penting,  bagaimana kita tahu orang-orang hebat, bagaimana kita tahu perjuangan orang tua kita, bagaimana waktu membentuk karakter sahabat kita, bahkan kapan kita dilahirkan pun hanya sejarah yang mampu menerangkannya, sederhana, tak perlu istimewa atau terlihat wah tapu setidaknya kita punya sejarah di mata orang-orang yang kita kenal, bukan menjadi cerita bualan yang terabaikan dan dilupakan, dan semuanya baru dimulai, lantas bagaimana dengan yang telah terlewatkan? Semuanya itulah yang menjadikan aku, kamu, dan kita saat ini, setiap kita punya cerita yang pantas dikenang, tentang tawa, tentang harapan, tentang luka, tentang pilu, tangis kita hari ini akan membuat kita tersenyum kelak kala mengenangnya, dan tawa kita hari ini akan kita tangisi kelak saat kita tak lagi sanggup berjumpa, semua tentang kejayaan kita yang kita banggakan saat ini juga kelak akan membuat kita berpikir panjang kemudian tertegun dan berucap ‘seperti itukan aku dulu?’, setiap keangkuhan kita sekaran kelak akan membuat tangis penyesalan.
Kadang terasa miris saat kita sangat membanggakan apa yang telah kita miliki hari ini dan lupa bahwa langkah kita akan dikenang dan diceritakan oleh orang lain, sering aku berpikir sudahkah aku menjadi seorang anak, seorang kakak, seorang sahabat yang baik untuk mereka yang pernah tuhan kirim untuk mengajariku menjadi dewasa? Kada terasa sesak, kadang merasa miris, dan sampai saat ini aku nelum pernah tersenyum saat memikirkan hal itu, karna aku belum bisa menjadi seseorang yang baik di mata mereka, jangankan menjadi pelita, bahkan sekedar menjadi tongkat saja belum, jangankan menjadi sandaran makah hanya menjadi beban tambahan terhadap hidup mereka uang sudah dipenuhi beban, benar-benar sesak saat mengingatnya, bahakan berterimakasih dan meminta maaf kepada merekapun aku sering lalai, yah, masih seperti itulah aku melihat diriku di mata mereka.
Begitu naif, begitu memilukan, saat aku melihat bahwa aku hanya meninggalkan kenangan getir untuk mereka, kenangan yang tak membuat mereka tersenyum kala namaku terlintas di benak mereka, hari ini hati ini akan memulainya, bukan dengan menghapus kenangan pilu itu, bukan dengan menggantinya dengan yang baru atau membuat mereka melupakannya, tapi dengan memberikan warna baru yang mungkin akan lebih membuatnya terlihat sedikit lebih indah, mungkin, karna aku tak pernah tahu apa yang terlintas di pikiran, mereka, memang tak pasti tapi aku tak punya alasan untuk tidak mencobanya. .

Cinta???

Posted in reality on May 9, 2012 by namialus

Hemm, cinta, kayaknya hal yang satu ini selalu jadi trending topic dan tema yang tak pernah padam dalam kehidupan, unik sih memang karna setiap orang pasti memiliki  persepsi berbeda bila ditanya tentang hal yangsatu ini, hal yang takkan pernah bisa lepas dari catatan kaki kehidupan setiap orang, rasanyapun unik, kadang senang kadang juga pilu, ada tawa juga tangis, tragis tapi selalu patut dikenang dan dikisahkan, kadang saya merasa miris untuk membahas hal yang satu ini, sensitif tapi tetap layak untuk dibahas, ,
Kalo bicara cinta, takkan pernah lepas dari hal yang satu ini, apalagi kalau bukan rindu, satu hal yang juga tak kalah unik, sebuah perasaan yang sangat sulit dijabarkan, kadang bikin senyum2 gak jelas tapi tak jarang juga membuat kesal setengah mati, yah, bisa dibilang mirip2 kentut gitu, ditahan mules dikeluarin juga sering bikin ribet, complicated banget deh, ,
Cinta itu objeknya juga macem2 tergantung dari perspektif mana kita mau melihatnya, dari cinta terhadap tuhan, orang tua, kekasih, saudara dan family, sahabat, guru, hewan peliharaan, bahkan cinta pada orang yang dibenci, nah maksudx yang terakhir tu gimana ya, dibilang cinta tapi benci dibilang benci tapi tetap saja menyita space diotak untuk memikirkan dan memperhatikan tindak tanduknya, apalagi kalau bukan buat dijadikan bahan ledekan, gunjingan, alias gosip, nah kalau dah begitu jadinya sudah menjurux ke arah yang kurang positifdan tak lagi kompetitif, memang manusia itu aneh, masih mau peduli sama hal atau orang yang sudah jelas2 hanya bikin jengkel, mau dibilang bego tapi masih lumrah, tapi mau dianngap wajar juga masih terasa janggal. ?
Tapi secara global cinta lebih ditujukan pada satu titik fokus objek, yakni kekasih atau semacamnya, dari yang mencintai lawan jenis sampai yang menyukai yang sejenis, apa ya istilah kerennya, kalo pemakan sejenis kan kanibal, kalo yang penyuka sejenis alias sukses (suka sesama) apa ya? Da yg tau gak?
Bicara kekasih tentunya masing2 kita dah pada tau bagaimana rasanya mencintai dan dicintai, seru, penuh fantasi, namun kadang juga terasa menikam bahkan ada juga yang sampai bunuh diri segala, serem banget deh, makqnya jangan main2 kalo belum tau aturan mainnya, yah seperti biasa kocok dulu sebelum diminum, hahaha, lu pikir ini sirup, , tapi buat kalian yang pernah down ato da yang sampe serasa dunia berakhir saat kehilangan orang yang disayang, disitu kita belajar untuk menjadi lebih kuat, lebih tau isi dunia, lebih tegar dan tentunya lebih dewasa, jadi gak usah menyesali terlalu berlarut2, cukup buka mata, bangun dari mimpi itu kemudian melangkah lagi, karna kalo berhenti sekarang kita takkan pernah tau hal2 apa lagi yang akan kita temui di depan, halah jadi bijak banget kesannya ya, padahal, hemmm, no comment dah, hahahaha. .
Orang yang lagi bahas cinta itu berarti kalo gak orang yang lagi jatuh cinta satux orang yang lagi jatuh karna cinta, alias patah hati, tapi berhubung saya sudah tak lagi punya hati jadi saya tidak akan patah hati dan hati kalian perlu berhati2 dengan orang yang tak punya hati, hahaha, kok jadi mendramatisir horor gini sih, whatever lah, yang penting, buat kamu yang pernah kehilangan cinta, yakinlah kalau itu bukan cinta yang kamu cari, dan beberapa langkah lagi di depan cinta itu akan segera kalian temukan, makax saat ini cukup kalian siapkan tempat yang pas untuk menyimpan cinta itu, dengan kata lain kita harus menyiapkam diri kita untuk menyambutx, so we have to be better n never repeat the similar mistakes, ,