Archive for January, 2016

Secangkir wedang buat para pelaut

Posted in reality on January 4, 2016 by namialus

_written in doubletree by hilton hotel_ 040115
image

Teruntuk kalian para sahabat yang sudah memilih menjadi pelaut, yang sudah menjadikan laut sebagai ladang rejeki untuk menghidupi keluarga, yang menjadikan kapal sebagai rumah, aku harap kalian masih belum terlalu membusungkan dada karena besarnya income bulanan yang kalian dapat, semoga kalian masih ingat bahwa kita masih miskin, kita masih sama-sama berusaha meraih kemapanan, dan aku harap kalian tahu dan belum lupa tujuan awal kalian atas jalan yang telah kalian pilih.

Bagiku menjadi pelaut sama halnya dengan mendaki gunung, buat para pendaki gunung, puncak bukanlah tujuan, tapi pulang kembali ke rumah dengan selamat adalah tujuan utamanya, bagitu juga memilih untuk menjadi pelaut, tujuannya bukanlah mendapat jabatan yang tinggi melainkan berhenti menjadi pelaut dengan status bebas waktu dan finansial, kalkulasinya sangat jelas, dengan status enam sampai sepuluh bulan berumah besi terapung dan hanya dua sampai tiga bulan di rumah, kehangatan dalam lingkungan bersama keluarga telah kita gadaikan dengan jaminan masa depan yang berkilauan.

Aku hanya ingin kembali mendendangkan tujuan yang mungkin sudah terdengar usang karena terlalu lama mendengar riuh debur ombak, bahwa saat kita mengumpulkan pundi-pundi jaminan masa depan itu ada hak pasangan yang terenggut, ada hak anak yang terabaikan, ada hak orangtua yang terampas, dan itu semua harus segera kita bayar dengan segera kembali ke pelukan mereka membawa jaminan yang kita janjikan, berada di tengah-tengah mereka setiap saat dengan status free time and financial.

Namun kadang kita terlena, seiring berjalannya waktu kita seringkali lupa akan semua itu, dan mulai lupa untuk menyimpan sebagian gaji kita untuk menebus hal yang kita gadaikan, kita mulai senang menghabiskan uang untuk berbelanja, berjalan-jalan, membeli barang-barang yang membuat kita merasa elit dan bergengsi. Kemudian kita mulai lupa menabung, mulai lupa tujuan awalnya, mulai terlena dengan nominal besar, padahal waktu yang kita renggut dari orang-orang yang kita sayangi tak cukup kita balas hanya dengan uang bulanan untuk biaya hidup sehari-hari yang kita sisihkan dari gaji kita. Ini sebenarnya bukan tentang seberapa besar nominal gaji yang kita terima, karena kalau kita bisa mengaturnya maka kita masih bisa menabung, dengan catatan tentunya semakin besar gaji maka seharusnya berbanding lurus dengan besarnya simpanan.

Tapi ada yang terlena dengan party dan minuman keras hingga lupa pada prioritasnya, ada yang keasikan menghabiskan uangnya di kasino, dan yang lebih parah lagi adalah kadang simpanan yang sudah kita atur bisa habis begitu saja karena “simpanan”. Tak sedikit mereka yang sudah berumah tangga tapi memilih untuk mencari pasangan lain di kapal, dan ini sudah benar-benar keluar garis, sudah benar-benar lupa tujuan awalnya menjadi pelaut, bukankah kita menjadi pelaut untuk membahagiakan pasangan di rumah, lalu kenapa malah menyakitinya dengan sebuah penghianatan, kita adalah pria atau wanita yang mereka pilih, mereka bukan memilih uang kita, kalau saja mereka lebih memilih uang pasti mereka lebih memilih untuk menjadi simpanan pejabat yang menjanjikan kemewahan, setidaknya hidup mereka akan lebih terjamin. Jadi marilah kembali ke koridor awal kita, tujuan kita menjadi pelaut.

Mulailah membuat prioritas, kemudian buatlah manajemen presentase pembagian income (buat kebutuhan pribadi, buat keluarga dan buat tabungan masa depan), kemudian susunlah rencana bebas waktu dan finansial kalian. Kemudian bakarlah seaman book kalian.

_be a good man, be a smart seaman_