Secangkir wedang buat para pelaut

Posted in reality on January 4, 2016 by namialus

_written in doubletree by hilton hotel_ 040115
image

Teruntuk kalian para sahabat yang sudah memilih menjadi pelaut, yang sudah menjadikan laut sebagai ladang rejeki untuk menghidupi keluarga, yang menjadikan kapal sebagai rumah, aku harap kalian masih belum terlalu membusungkan dada karena besarnya income bulanan yang kalian dapat, semoga kalian masih ingat bahwa kita masih miskin, kita masih sama-sama berusaha meraih kemapanan, dan aku harap kalian tahu dan belum lupa tujuan awal kalian atas jalan yang telah kalian pilih.

Bagiku menjadi pelaut sama halnya dengan mendaki gunung, buat para pendaki gunung, puncak bukanlah tujuan, tapi pulang kembali ke rumah dengan selamat adalah tujuan utamanya, bagitu juga memilih untuk menjadi pelaut, tujuannya bukanlah mendapat jabatan yang tinggi melainkan berhenti menjadi pelaut dengan status bebas waktu dan finansial, kalkulasinya sangat jelas, dengan status enam sampai sepuluh bulan berumah besi terapung dan hanya dua sampai tiga bulan di rumah, kehangatan dalam lingkungan bersama keluarga telah kita gadaikan dengan jaminan masa depan yang berkilauan.

Aku hanya ingin kembali mendendangkan tujuan yang mungkin sudah terdengar usang karena terlalu lama mendengar riuh debur ombak, bahwa saat kita mengumpulkan pundi-pundi jaminan masa depan itu ada hak pasangan yang terenggut, ada hak anak yang terabaikan, ada hak orangtua yang terampas, dan itu semua harus segera kita bayar dengan segera kembali ke pelukan mereka membawa jaminan yang kita janjikan, berada di tengah-tengah mereka setiap saat dengan status free time and financial.

Namun kadang kita terlena, seiring berjalannya waktu kita seringkali lupa akan semua itu, dan mulai lupa untuk menyimpan sebagian gaji kita untuk menebus hal yang kita gadaikan, kita mulai senang menghabiskan uang untuk berbelanja, berjalan-jalan, membeli barang-barang yang membuat kita merasa elit dan bergengsi. Kemudian kita mulai lupa menabung, mulai lupa tujuan awalnya, mulai terlena dengan nominal besar, padahal waktu yang kita renggut dari orang-orang yang kita sayangi tak cukup kita balas hanya dengan uang bulanan untuk biaya hidup sehari-hari yang kita sisihkan dari gaji kita. Ini sebenarnya bukan tentang seberapa besar nominal gaji yang kita terima, karena kalau kita bisa mengaturnya maka kita masih bisa menabung, dengan catatan tentunya semakin besar gaji maka seharusnya berbanding lurus dengan besarnya simpanan.

Tapi ada yang terlena dengan party dan minuman keras hingga lupa pada prioritasnya, ada yang keasikan menghabiskan uangnya di kasino, dan yang lebih parah lagi adalah kadang simpanan yang sudah kita atur bisa habis begitu saja karena “simpanan”. Tak sedikit mereka yang sudah berumah tangga tapi memilih untuk mencari pasangan lain di kapal, dan ini sudah benar-benar keluar garis, sudah benar-benar lupa tujuan awalnya menjadi pelaut, bukankah kita menjadi pelaut untuk membahagiakan pasangan di rumah, lalu kenapa malah menyakitinya dengan sebuah penghianatan, kita adalah pria atau wanita yang mereka pilih, mereka bukan memilih uang kita, kalau saja mereka lebih memilih uang pasti mereka lebih memilih untuk menjadi simpanan pejabat yang menjanjikan kemewahan, setidaknya hidup mereka akan lebih terjamin. Jadi marilah kembali ke koridor awal kita, tujuan kita menjadi pelaut.

Mulailah membuat prioritas, kemudian buatlah manajemen presentase pembagian income (buat kebutuhan pribadi, buat keluarga dan buat tabungan masa depan), kemudian susunlah rencana bebas waktu dan finansial kalian. Kemudian bakarlah seaman book kalian.

_be a good man, be a smart seaman_

Advertisements

Me

Posted in reality on November 16, 2015 by namialus

Brjalan trtunduk, menatap sendu setapak sebrang waduk.

 

Selangkah, selangkah, q pijakkan tapak yg mulai melepuh trsaput mentari.

 

Senja tertunduk muram merentangkan cadar, malam yg perawan brgaun purnama sungguh anggun.

 

Tak lupa dbisikkanx pesan kelabu akan perih yg ia kecap.

 

Hujanpun enggan tertetes menggersang pilu tersaput cerita sendu.

 

Selamat tinggal, cintaq msh utuh tp irama kita tak lg senada. Begitulah pesan terakhir yg sempat malam sampaikan.

Titah Bulan Tentangmu

Posted in reality on November 16, 2015 by namialus

Bulan brkisah padaku,

dia kini gundah berjubah selendang sepi,

tapi bulan hanya bungkam saat q tanya siapa yang dia tunggu.

 

 

Dalam tanya yang menyeruak

tak ada pijar yg menerangi gulita tanyaku.

Kau tau siapa yang dia tuggu,

begitulah sepatah pesan terakhir bulan d ujung tuturnya.

/me

Posted in reality on November 16, 2015 by namialus

Kepala ini masih batu
ego ini masih utuh
tapi idealisme itu telah hilang
meski hati ini masih serupa
tak ada yg berubah, masih ada namamu dsana, penuh darah dan airmata
 
tak ada yang mampu menghapusx
tuhan sekalipun melemparkan saputangan putih
tak ada yg bs melarutkanx bahkan darah sang perawan
 
terduduk
termangu
terpaku
q dsini bersanding gelap yg dl sempat kau terangi
hanya sunyi yg q dengar
bahkan suara adzan yg dl selalu memekakkan telinga kini tak berani merasuki rongga dengarq
 
tangis seorang ibu yg mulai renta
mengiba penuh harap
smw berlalu tanpa angin
q bukan lagi batu yg bs besi pecahkan
sudah terlalu keras smwx kini
bagai intan
dan hanya intan yg mampu memecah dan membentukx, ,

SEBUAH CATATAN DARI BALIK BANGSAL 4443

Posted in reality on July 10, 2015 by namialus

Buat kamu; kawanku yang sedang terpuruk, yang sedang bersedih, yang dilanda kegagalan, ataupun yang merasa hidupnya tak se-beruntung hidup orang lain, sudah tiba masanya kamu bangkit, sudah saatnya kamu merubah mindset kerdil kamu, sudah saatnya berkata “aku spesial” sebagai ganti “aku mah apa dibanding dia”.
Tapi sebelum aku melanjutkan tulisan ini, perkenankan aku untuk berterimakasih kepada ibu terhebat yang aku miliki, seorang ibu yang luar biasa. Ibu, mungkin aku sudah dewasa, aku sudah tidak minta uang jajan lagi kepadamu, tapi aku masih jagoan kecilmu yang dulu, yang masih merepotkanmu sampai saat ini, yang masih sering membuatmu kesal, aku masih sama, aku masih melakukannya sampai detik ini, dan kamu juga masih sama, dengan kesabaran dan kasih sayang yang sama memaafkan setiap ketololanku, dan kamu masih tak pernah bosan melakukannya meski sudah puluhan tahun seperti itu, kamu masih menatapku dengan tatapan penuh kasih seperti kala menatapku pertama kali saat aku menangis dan merah bermandi darah dan air ketubanmu, kamu luar biasa, dan akan selalu begitu di mataku, terimakasih untuk tidak menyerah kala itu untuk menghadirkanku ke dunia ini meski Tuhan baru menjawab doamu di usia ke tujuh pernikahanmu.
Ya, aku dilahirkan atas kerja keras tanpa rasa kenal lelah selama tujuh tahun sejak masyarakat meresmikan ibuku sebagai istri ayahku, aku tahu kamupun begitu, mungkin sedikit berbeda, tapi sadarilah kamu dilahirkan berkat kerja keras dan pengabdian seorang ibu, dan sekarang kamu mau menyerah begitu saja pada situasi yang sulit, padahal itu hanya sedikit saja, aku pikir ibumu tak melahirkanmu hanya untuk kalah, aku pikir ibumu tak pernah bermimpi untuk melahirkan pecundang, dan aku yakin ibumu masih menceritakan kehebatanmu di belakangmu dengan bangga.
Banyak dari kita yang berpikir bahwa kita tidak se beruntung orang lain, maka lahirlah statemen “enak ya jadi kamu, “kamu beruntung banget sih”, “dia mah enak udah pinter anak orang kaya lagi”. Apa semua itu benar? Tidak, karena kita tidak pernah tahu yang sebenarnya bagaimana ‘dia’, andai kamu pernah jadi ‘dia’ maka kamu tidak akan pernah berkata demikian, dan kamu juga tidak perlu jadi ‘dia’, karena kamu diciptakan tuhan spesial sebagai kamu, dan jika kamu berusaha menjadi orang lain bukankah kamu telah menyia-nyiakan keistimewaan yang Tuhan berikan dalam diri kamu.
Mungkin saat ini kamu hanya sedang gagal, sedang terpuruk, sedang patah hati, sedang dalam masa sulit, itu wajar, yang tidak wajar adalah saat kamu menyerah karena itu. Lalu bagaimana cara mengatasi semua itu?, jangan larut di dalamnya, aku tidak bilang kalau kita tidak boleh bersedih, itu sah-sah saja, itu manusiawi, tapi jangan terlalu lama, karena sehari tidak akan berubah menjadi 48 jam hanya karena waktu menunggumu dan bersimpati padamu yang sedang bersedih, tidak kawan, berilah deadline atas keterpurukanmu, jangan terlalu lama, agar kau tak terlalu jauh ketinggalan yang pada akhirnya membuatmu harus berlari mengejarnya.
Buat kamu yang sedang gagal, atau yang pernah gagal, atau juga yang sampai saat ini masih gagal, bersyukurlah, karena kamu berada satu langkah di depan mereka yang sukses, kenapa begitu?, karena Tuhan telah megajarkan kamu satu bab yang belum mereka pelajari, yakni pahitnya kegagalan. Dan selanjutnya kita hanya perlu belajar bagaimana caranya bangkit, jika kamu sudah bisa melakukannya maka kamu sudah dua langkah meninggalkan mereka. Pernyataan yang akan muncul adalah, “tapi itu kan tidak mudah”, benar, dan jika itu mudah maka kamu tidak belajar, karena yang mudah tidak akan membuatmu menjadi lebih dewasa. The most important decisions in life are never easy, keputusan-keputusan penting dalam hidup itu memang tidak pernah mudah, sadari itu, dan jika kamu bisa menaklukkannya, maka pintu-pintu dan pilihan-pilihan baru akan terlihat jelas di depanmu.
jika kamu lari maka akan dikejar, itu adalah hal yang pasti, maka jangan pernah lari, hadapilah masalahmu, karena terkadang kenyataan itu tidak seburuk yang kita takutkan, resiko dan konsekuensi selalu ada, tapi jika kamu tidak pernah mau menanggungnya maka kamu tidak akan pernah melangkah, kamu akan selalu diam di tempat. Mungkin kamu sudah nyaman dengan apa yang kamu miliki sekarang, itu tandanya kamu sedang berada dalam zona nyaman atau comfort zone kamu, itu seringkali membuatmu terlena dan tidak mau bergeming, namun pada dasarnya itu adalah bom waktu yang siap menghancurkanmu kapan saja, karena sebagai makhluk hidup berkembang dan tumbuh adalah salah satu cirinya, maka jika kamu tidak tumbuh artinya kamu tidak lagi hidup.
Berhentilah iri pada orang lain, karena itu menikammu dari dua sisi, satu sisi kamu melemahkanmu dan di sisi lain kamu membuat orang yang kamu irikan menjadi lebih besar. Kalau ada sebagian orang yang pamer atas kejayaannya, jangan puji mereka, karena pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang butuh dikasihani, kenapa demikian?, orang yang jaya dan mereka pamer artinya mereka tidak atau mungkin hanya belum merasa bahagia dengan apa yang mereka raih, makanya mereka masih butuh pujian orang lain hanya untuk sekedar sedikit lebih bahagia, dan jika kamu iri maka sesungguhnya kamu sedang membuat mereka dan dirimu semakin terpuruk.
Jangan sampai jatuh di lubang yang sama, aku sering mendengarnya, ku pikir kamu juga, entah itu pepatah atau apa, tapi jika banyak yang mengatakannya jika sedang menasehati orang lain. Itu benar, dan yang perlu kita telaah adalah bagaimana caranya agar tidak jatuh di lubang yang sama?, gampang, tutup lubangnya, bukan menghindarinya. Karena jika kita menghindarinya lubang itu masih ada dan kemungkinan untuk terjatuh pada lubang itu tentunya juga ada, tapi jika kita menutupnya maka saja jamin kamu tidak akan pernah terjatuh pada lubang yang sama.
Buat kawan-kawanku yang sedang patah hati, maafkanlah orang yang menyakitimu, karena mungkin dia hanya lupa bahwa saat ia mengikrarkan perasaannya padamu ia juga sedang berjanji pada dirinya untuk menjamin kebahagiaanmu, dan doakanlah semoga ia segera mengingatkannya sebelum orang lain mengambilmu dan menggantinya dengan penyesalan. Bagi mereka yang sedang dilanda masalah, bersabarlah, karena sesungguhnya Tuhan sedang berada di depanmu untuk mewawancaraimu sebelum memberikan promosi jabatan. Buat kamu yang sedang sibuk dan mulai jenuh dengan tugas akhir atau skripsi yang tidak kelar-kelar karena dosen pembimbing selalu mengkritisi dan memberikan koreksi untuk segera direvisi, bersyukurlah, setidaknya kamu tidak terlalu cepat menjadi pengangguran. Bagi mereka yang sedang menunggu kelahiran putra-putri pertamanya setelah bertahun-tahun menikah, berbanggalah, karena anakmu sangat spesial, hingga Tuhan butuh waktu lebih lama untuk mempersiapkannya sebelum mengenalkannya pada dunia, maka persiapkan pula diri kalian agar menjadi orang tua yang luar biasa agar nantinya anakmu yang hebat itu tidak tersia-siakan keistimewaannya.
Aku, orang yang pernah gagal, aku juga orang yang sempat ingin menyerah pada situasi, aku bukan orang hebat yang selalu berhasil, aku bukan orang pintar yang tak butuh belajar agar lulus ujian, andai saja boleh iri aku juga mau iri sama kalian. Kerja keras dan ketekunan tidak akan pernah menghianatimu, tetaplah berjuang dan berusaha, aku tidak bilang kalian akan berhasil, aku juga tidak pernah menjamin itu, tapi selama kita tidak menyerah sekecil apapun pijarnya lentera harapan masih akan tetap menyala, dan jika kalian menyerah maka sudah tidak ada yang tersisa.

JEJAK HATI

Posted in reality with tags , , , , , on June 21, 2015 by namialus

image

Namaku manda, manda mawardi lengkapnya, malam ini aku hanya ditemani suara rintik di luar sana, anakku angga sudah tidur satu jam lalu, suamiku sedang dinas di luar kota seminggu ini, aku sedang bingung dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan, akhirnya aku putuskan untuk memutar musik di ponsel menggunakan headset sambil menyelesaikan urusan kerjaan, setelah beberapa lagu akhirnya sampai pada lagunya MLTR yang judulnya ‘that’s why (you go away)’, seketika lamunanku tak berujung menembus masa, ada seseorang yang seolah tersenyum padaku, seorang yang dulu pernah hadir dalam hidupku, seseorang yang selalu memberi warna cerah dalam hari-hariku kala itu.
Ini kisahku, kisah tujuh tahun silam, ketika aku masih dua puluh tahun, aku masih ingat kata-katanya “isi kantong sama perut itu kadang gak sejalan apalagi sama mata, begitu juga jodoh, kita bisa memilih dengan siapa kita akan menikah tapi kita takkan pernah tahu pada siapa kita jatuh cinta”.
Dia cintaku, dan suamiku adalah jodohku, ku pikir aku tak cukup beruntung karena cintaku tak sejalan dengan jodohku, tapi aku cukup bersyukur setidaknya aku pernah menemukan cintaku, tak ada sesuatu yang sangat spesial dalam kisah cintaku dengannya, semuanya wajar seperti kebanyakan remaja, semuanya sangat biasa, tapi dia adalah sang pembeda, dia membuat yang biasa menjadi istimewa, dialah sosok spesial dalam hidupku. Mungkin bagi kalian ini kisah yang membosankan, tapi tidak bagiku.
****
Dingin pagi masih menyelimuti tubuhku, ingin rasanya masih memejamkan mata dan menarik selimut sampai menutupi semua tubuhku, gigilnya cukup membuat jemariku mengepal sebagai bentuk perlawanan, namun apa daya kini aku sudah berdiri di sini bersama ratusan manusia remaja lainnya yang hendak mengatasnamakan diri mereka sebagai mahasiswa. Ini hari pertamaku kuliah, belum kuliah juga sebenarnya sih, lebih tepatnya orientasi mahasiswa baru, biasa juga dibilang ospek, ajang unjuk gigi senior, terutama panitia, di depan para mahasiswa baru.
Hari ini rambutku dikepang dua, dengan beberapa ikat pita menghiasinya, tas plastik, nama identitas dari karton besar juga melingkar sukses dengan tali rafia sebagai pengikatnya, sudah seperti orang gila saja aku pagi ini, sebenarnya aku salah satu orang yang paling menentang adanya orientasi pengenalan kampus yang dilakukan dengan cara seperti ini, selain manfaatnya yang kurang terasa, menurutku ini lebih pada eksploitasi atau perploncoan terhadap para calon mahasiswa baru, dalih membangun mental selalu jadi dalil resmi para panitia, ‘memangnya kami sakit jiwa hingga mental kami butuh latihan seperti ini’, begitulah gumamku setiap mereka melafalkan dalih itu.

“Kelompok delapan” teriak seorang panitia membuyarkan lamunanku, itu kelompokku, segera aku menyejajarkan langkah dengan teman-teman yang berdiri di depanku. Kami sampai di depan seorang panitia yang bertugas memriksa kelengkapan penugasan yang diinformasikan kemarin, aku mengecek setiap bawaanku, dari kartu identitas, barang bawaan dalam tas plastik dan tak urung aku meminta teman yang berdiri di belakangku menghitung jumlah pita di rambutku, “aman”, gumamku ketika temanku itu menyebut angka dua belas setelah menghitung pitaku.
Seorang panitia yang ku taksir umurnya dua atau tiga tahun lebih tua dariku datang kepadaku dengan wajah yang seakan menyeringai, bagai bianatang buas menatap mangsanya, tak urung aku sedikit grogi, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, meski sudah ku pastikan semuanya lengkap masih saja aku ragu ketika panitia yang ku tahu belakangan bernama rahman setelah seorang panitia lainnya memanggilnya, “yang sudah merasa lengkap silahkan maju” ujarnya pada kami, aku maju setelah beberapa temanku maju, rasanya terlalu beresiko kalau aku maju duluan, karena ada beberapa kemungkinan, pertama, aku maju sendirian dan tak ada seorangpun yang maju, dan pasti kalau itu terjadi aku akan menjadi mangsa si rahman, atau yang kedua, menjadi mangsa mata para teman-teman lainnya yang akan menatapku seolah aku sedang berdiri telanjang di depan mereka karena mereka pikir aku tidak kompak.
Akhirnya tiba juga giliranku, panitia itu menunjuk ke arahku, isyarat aku harus maju dan akan mulai memeriksa kelengkapan penugasanku, dia mulai menyebut beberapa benda, aku harus menunjukkan benda yang ia sebut, setelah beberapa saat akhirnya selesai juga, aku mengherla nafas lega, dan aku sudah boleh melanjutkan perjalanan ke kantor rektorat tempat acara utama diselenggarakan.
****
Acara kontrak forum sudah dimulai dengan sesi tanya jawab, empat orang panitia bagian komisi disiplin yang mereka singkat menjadi komdis duduk di depan kami dalam sesi ini, beberapa orang lainnya berkeliling memastikan tak ada satupun dari kami yag tertidur, meski tetap saja sebagian dari kami mungkin sudah mulai lelah dan mulai tak dapat menyangga kepalanya, atau mungkin juga lehernya seketika menjadi lunak, setelah semalam lembur membuat penugasan dan harus bangun pagi buta, ditambah udara ruangan yang cukup mendukung untuk melanjutkan mimpi semalam, rasanya cukup wajar kalau sebagian dari kami tak sanggup melawan kanntuk, namun wajar bagiku tentu saja tidak bagi para panitia.
Setelah sambutan singkat dari ketua panitia dan ulasan tentang jalannya acara tiga hari ke depan, tiba saatnya panelis membuka sesi tanya jawab, bersamaan dengan itu juga seorang panitia masuk dan langsung berjalan melewati kami menuju kursi di tengah para komdis, langkahnya tegap, tingginya sekitar 170 lebih, dan dia semakin terlihat tinggi dengan celana jeans hitam plus kaos hitam yang dia balut dengan jas almamater, ID panitia terselip di pinggangnya yang menguntai di sela-sela tas selempang yang juga berwarna hitam, rahangnya kaku sedikit persegi, rahang yang keras dan tatapan mata yang sangat tajam, namum wajahnya tak menakutkan, dan sepertinya panitia lainnya juga menaruh hormat padanya.
”Ya silahkan maju adik dari kelompok lima” ujar panelis setelah memilih siapa yang akan diperkenankan mengajukan pertanyaan membuyarkan prediksiku tentang panitia yang baru datang yang juga sudah duduk di kursi tepat di tengah-tengah komdis lain.
Seorang calon mahasiswa baru maju, “saya mau usul bagaimana kalau waktu ishoma diperpanjang soalnya waktu 30 menit itu tidak cukup untuk makan kemudian sholat karena kita harus antri yang mau wudlu kak, terimakasih”. Seketika ruangan menjadi ramai, ya banyak diantara kami yang setuju dengan usulan teman kami ini. ”ya silahkan selanjutnya dari kelompok delapan” ujar panelis memecahkan kebisingan kami yang masih membicarakan tentang usulan yang pertama tadi. ”kak, kalau ngasih penugasan itu yang rasional dong, seperti misalnya kartu identitas atau keplek yang harus dibuat dengan bentuk segitiga sama kaki dengan ukuran luas seperti di penugasan itu tidak mungkin, jadi panitia yang bener dong ngasih penugasan” seketika terdengar tepuk tangan dari beberapa calon mahasiswa baru seolah mengibarkan bendera kemenangan karena salah satu dari kami berani menyalahkan panitia, meski beberapa diantara camaba masih bertanya-tanya “iya ta?” “memang gak bisa ya?”, “silahkan tenang” ujar panelis, “selanjutnya yang terakhir, kelompok sembilan” katanya melanjutkan setelah ruangan tak lagi bising. ”kak kenapa penugasannya harus di upload di blog dan baru bisa diakses ketika kami mau pulang? Bukankah sebaiknya disampaikan langsung dan jangan sore hari sehingga kami punya waktu lebih lama untuk menyiapkannya, terimakasih”.
“ya silahkan para komdis menanggapi pertanyaan dan usulan dari adik-adik camaba ini” panelis mengakhiri semua pertanyaan dan usulan kami dan memberikan waktu bagi para komdis untuk menanggapinya.
Kami mulai serius mendengarkan, penasaran dengan apa tanggapan dari mereka terutama untuk pertanyaan nomer dua yang bisa jadi skak mat bagi para komdis, karena sejak pertanyaan itu diajukan beberapa orang yang duduk di depan sana mulai terlihat tidak nyaman dan beberapa yang bertugas berkeliling mulai menarik diri ke barisan belakang kami. Kak Rahman yang pagi tadi memeriksaku ngambil mikrofon dan mulai menepuknya memastikan kalau itu sudah menyala, “masalah ishoma itu sudah kami perkirakan jadi kami pikir itu sudah cukup dan tidak bisa kami tambah lagi dan masalah keplek atau kartu identitas emmm, emm” kak rahman mulai kebingungan, mulai menoleh dan berbisik dengan rekan di sebelah kirinya yang hanya menggeleng saat kak rahman seperti mau meyodorkan mikrofon yang ia pegang. Meski sebenarnya kami masih belum puas atas tanggapannya terhadap usulan tentang ishoma tadi tapi tak apalah karena jawaban atas pertanyaan ini memang yang kami tunggu-tunggu.
”Ehm” seketika suara mendehem lewat pengeras suara membuyarkan konsentrasi kami terhadap si rahman yang mulai panik, dan sang pemilik suara adalah panitia yang tadi datang terlambat, pria yang duduk di tengah deretan kursi di samping panelis, ”sebelumnya selamat pagi adik-adikku semuanya, mungkin lebih baiknya saya memperkenalkan diri dulu agar tidak disangka panitia ilegal disini, karena saya yakin kalian belum pernah melihat saya di acara pre-ormaba kemarin, nama saya azka faizul akbar, saya selaku koordinator komdis dalam kepanitiaan ini, saya juga minta maaf karena kemarin saya tidak bisa hadir dan hari ini harus datang terlambat karena saya ada acara lain, acara kampus juga bukan acara pribadi, jadi tolong jangan berpikiran saya semena-mena bertindak semau saya sendiri hanya karena saya koordinator komdis, saya rasa cukup perkenalannya dan saya akan menanggapi usulan dan pertanyaan dari adik-adik sekalian”, intonasi suara dan tata bahasanya cukup membuat hening ruangan, seolah kami semua tersihir dengan kharismanya dan posisinya sebagai koordinator cukup membuatku menelan ludah, ditambah lagi saat dia tersenyum ada lesung pipit yang sangat manis di pipi kirinya menambah pesonanya.
“Usulan pertama tentang masa ishoma agar diperpanjang kami sebetulnya juga ingin kalian punya waktu istirahat untuk makan dan beribadah dengan tenang namun semua jadwal yang kami susun itu sudah kami atur sedemikian mungkin estimasi waktunya agar sesuai dengan durasi waktu yang kita miliki serta waktu kosong para pembicara, dan mengubah satu hal meski itu hanya waktu ishoma akan merubah keseluruhan susunan acara, acara yang pada awalnya Cuma tiga hari mungkin nantinya bisa jadi seminggu hanya karena kami menambahkan waktu ishoma, kalian mau ospek sampai satu minggu?” lanjutnya “tidaaaak” serentak kami menjawab, “jadi masih mau ishoma 30 menit atau ditambah?” “tetaaapp” seru kami lagi.
“semua penugasan yang kalian bawa sekarang saya sendiri yang membuatnya jadi wajar kalau teman-teman komdis yang lain sedikit kaget dengan pertanyaan dari salah satu teman kita tadi, apa yang dikatakan teman kita benar, ukuran untuk keplek itu mustahil untuk segitiga sama kaki, silahkan beri tepuk tangan atas ketelitiannya, mungkin tidak cuma satu tapi beberapa orang di antara kalian juga menyadarinya, semuanya membawa keplek?” “iyaaa” “ada yang tidak buat? Kalau ada silahkan acungkan tangan” semua camaba menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak satupun yang terlihat mengacungkan tangan, “mana mas yang tadi nanya? Tolong maju” teman kami yang tadi bertanya tentang keplek maju, “mas buat kepleknya dengan ukuran berapa? Sama seperti penugasan yang di blog?” “tidak kak” “kenapa masih buat kalau sudah tahu itu salah dan tidak ada ukurannya?” “takut dihukum kalau tidak buat kak” “nah ini yang salah, sudah tahu itu gak ada ukurannya tapi masih dibuat, sudah tahu itu salah tapi masih dilakukan, dan itu hanya karena takut, ini saya yang pintar apa kamu yang bodoh? Lebih baik kalian tidak tahu dan melakukannya karena kalian akan menjadi tahu, tapi ketika kalian sudah tahu itu salah tapi tetap dilakukan itu yang parah”.
Seketika tepuk tangan menggema dari panitia yang berdiri di bagian belakang kami, dari para camaba, serta dari tanganku sendiri, jawabannya menelikung balik kami, posisi kami tak lagi unggul dan para panitia yang tadinya sudah mulai panik seakan mendapatkan hawa segar, seolah mereka baru tenggelam dan ada seseorang yang memberikan nafas buatan.
“pertanyaan yang ketiga ada kaitannya juga dengan yang kedua, kenapa teman-teman komdis tidak ada yang tahu, karena itu saya sendiri yang membuatnya, dan itu tetap menjadi rahasia sampai itu dibaca ketua kelompok kalian, kenapa saya buat seperti itu, agar tetap fair, jadi meski ada panitia yang punya saudara, pacar, atau adik kelas camaba di sekolahnya dulu tidak punya kesempatan membocorkan penugasan, belum lagi warung-warung sekitar kampus yang akan memanfaatkannya bila data itu sampai jatuh ke tangan mereka, memang hal yang sangat sepele tapi saya tidak mau itu terjadi dan pada akhirnya kalian juga yang menjadi korbannya, dan itu juga sebagai ucapan selamat datang di fakultas teknik informatika, jadi yang awalnya buka internet hanya untuk sosial media atau download sekarang bisa buka blog, dan tugas anak teknik informatika itu tidak sedikit dan tidak mudah, kadang kita harus begadang semalaman untuk lembur tugas dan pagi buta sudah harus ke kampus buat praktikum, mudah-mudahan kalian puas dengan semua jawaban dari saya selanjutnya saya kembalikan pada panelis” ucapnya mengakhiri kemudian langsung berdiri melangkah meninggalkan ruangan diiringi tepuk tangan semua orang yang ada di ruangan.
****
Hari ini aku nyatakan sebagai yang sangat melelahkan se-dunia, setelah sholat maghrib aku merapikan kamarku sebentar, tapi ada sesuatu yang sedikit mengganjal di pikiranku, sepertinya wajah kak azka tak asing bagiku, apa aku pernah bertemu kak azka sebelumnya, tapi kapan dan dimana ya, ah mungkin hanya perasaanku saja, namun pertanyaan-pertanyaan itu masih menari-nari di pikiranku.
“Dik sini keluar” teriak kakakku dari teras kos, “sebentar” jawabku juga dengan berteriak, saat tiba di pintu ku lihat di kursi teras kakakku melambaikan tangan, tapi dia tak sendirian ada pria yang duduk di depannya aku tak bisa melihat wajahnya karena ia duduk membelakangiku, “duduk sini dek” panggil kakakku, “iya” sahutku. “kenalin dek ini…” “kak azka” potongku menyela ucapan kakakku, “loh kok tahu?” kak azka mengernyitkan dahi penasaran dari mana aku tahu namanya, “juniormu di fakultas yam” jawab kakakku menjawab penasaran kak azka, “ohh” ujar kak azka mengiyakan, “ini manda yam adikku, titip dia ya”, “saya manda kak” aku menyodorkan tangan untuk bersalaman, “titip? Emang buka penitipan? Titip buat diapain nih?” kak azka melirik ke arahku, kemudian kami bertiga tertawa, dan lagi-lagi lesung pipinya membuatku sedikit gemas, dan itu menjadi salah satu alasan kenapa aku ingin kak azka selalu tertawa, karena dia terlihat sangat manis dan ingin rasanya aku ambil saja lesung pipi itu agar aku yang jadi manis.
Yam? Kenapa kakakku memanggil kak azka dengan sebutan yam? Ingin sebenearnya ku tanyakan saat ini juga karena aku tak suka dibuat penasaran, namun ketika aku hendak melontarkan pertanyaan itu tiba-tiba gerbang kos terbuka dan adikku memasuki halaman kos, seketika itu juga kakakku memanggilnya untuk bergabung dengan kami, “sini fir” “iya kak” “ini fira yam adiknya manda” “ohh saya azka dik, maba juga?” tanya kak azka, mungkin dia penasaran kenapa aku dan fira bisa satu angkatan padahal usia kita terpaut hampir dua tahun. “iya kak, aku fira, masuk dulu ya kak gerah mau mandi terus sholat dulu”, “makanannya ada di atas lemari” ujar kakakku menimpali bersamaan dengan berlalunya fira.
“Gimana kemarin pertandingannya yam? Menang?” “iya menang” “pertandingan apaan kak?” ujarku ikut nimbrung menyela percakapan mereka “futsal, azka ini kapten tim futsal kampus kita loh dik” “ohh” hanya itu suara yang bisa keluar dari mulut yang hanya bisa ku bulatkan, “terus finalnya kapan?” “masih hari minggu, barengan dengan hari terakhir ospek, kamu tahu sendiri setelah nanti semaleman ngospek paginya harus tanding, mudah-mudahan aja masih bisa tetap fit” jawab kak azka sambil memandang jalanan dan mengacak rambutnya “bisa lah” jawab kakakku sambil menepuk bahunya, “lah terus interview km sendiri gimana? Diterima?, katanya kemarin gak bisa ikut karena ada interview kerja kan?” “alhamdulillah lancar, minggu depan aku mulai kerja, makanya aku titip adik-adikku di sini ke kamu ya yam” “siap”.
“Keluar yuk” ujar kak azka seketika mengajak kakakku, “kemana?” “liat bintang, biasa, mumpung lagi cerah” “aku ambil jaket dulu ya” “iya” “mau ikut dik?” entah pertanyaan serius mengajak atau hanya basa-basi kakakku menawariku” “gak ah, mau buat penugasan dulu” “hahaha” seketika kak azka tertawa mendengar aku mengucapkan kata penugasan, yaiyalah secara dia yang buat dia yang besok periksa, “dan jangan lupa besok pagi jangan sampai telat” ujarnya menambahi “siap kak” jawabku, kakakku sudah datang dan mereka berdua pamit padaku, seketika suara motor menggema di halaman kos yang beberapa saat kemudian menghilang bersama kakakku dan kak azka.
****
Veni yulia mawardi, itulah nama kakakku dia baru saja wisuda dari kampus yang baru aku masuki, dia di fakultas pertanian, jurusan TIP, ini minggu terakhir dia masih di sini karena dia akan mulai kerja, aku mulai penasaran bagaimana kak ve bisa kenal kak azka kan mereka beda jurusan, bahkan beda fakultas, juga beda angkatan, terus kenapa kak ve manggil kak azka dengan panggilan “yam”? apa mereka pacaran ya? Terus kenapa wajah kak azka terasa sedikit familiar saat aku pertama melihatnya kemarin? Apa kami pernah ketemu sebelumnya atau kak ve pernah ngenalin dia ke kami sebelumnya tapi kami lupa? Ah kenapa aku jadi seperti ini, biasanya aku tak sepeduli ini pada seseorang yang baru aku temui, tiba-tiba ponselku bergetar, sepertinya ada sms masuk, pesan dari pacarku, biasa, nanyain kabar, sudah makan apa belum, perhatian seperti biasanya.
Namanya iman kakak kelasku pas SMA dulu, kami baru jadian beberapa bulan lalu, waktu itu aku baru saja putus dari pacarku, sebenarnya pada awalnya aku tak begitu punya rasa pada iman namun perhatian dan keseriusannya aku rasa cukup layak agar aku memberinya kesempatan untuk memasuki hidupku, dia kuliah di kampus swasta, sambil kerja, lebih tepatnya berwiraswasta kecil-kecilan, aku masih ingat waktu pertama dia menyatakan perasaannya kepadaku, cukup lucu, entah karena dia tidak berani mengutarakannya secara langsung atau itu memang cara yang dia pilih, dia memberiku sebuah SD card dan memintaku untuk melihat isinya, di dalamnya ada file surat yang ia tujukan padaku dengan susunan kata-kata yang cukup puitis, yah dan akhirnya kami jadian dan bertahan sampai saat ini, aku membalas pesannya tak lupa aku bilang mau istirahat soalnya aku capek dan besok harus ke kampus pagi-pagi, yang ku akhiri dengan ucapan selamat malam.
Aku mengecek semua penugasan yang dari tadi aku buat, dan sepertinya semuanya sudah selesai, aku juga sudah capek, ku kemasi semuanya ku masukkan dalam tas plastik, ku lihat adikku fira juga sudah sedari tadi terlelap di kasur tapi sepertinya kak ve belum pulang juga, setelah merapikan semuanya aku pun harus segera tidur agar besok tidak telat seperti pesan kak azka.
****
Setelah mandi, sholat subuh dan merapikan semua penugasan aku bergegas ke kampus bersama adikku, kos kami tak jauh dari kampus, hanya sekitar lima sampai sepuluh menit jalan kaki, kalau pagi begini apalagi rame-rame gak akan terasa, jam enam tepat kami sudah harus ada di depan kantor rektorat, aku mengecek jam tanganku, masih sekitar setengah jam lagi, jadi aku tak perlu lari, adikku juga sama Cuma tempat kumpulnya saja yang beda dia harus berkumpul di depan GSC, lima belas menit sebelum acara dimulai aku sudah sampai di lokasi, sebagian besar camaba juga sudah ada disini, di kelompokku hanya ada sekitar tiga orang yang belum datang.
Jam enam tepat kak azka yang awalnya duduk di kursi teras depan pintu masuk gedung rektorat mulai bejalan ke arah kami, dia berhenti tepat di bawah tiang bendera dan berdiri tegak disana, bersamaan dengan itu teman-teman kami yang sudah hampir sampai di lokasi mulai berlarian agar tidak terlambat, “rekan-rekan komdis tolong pisahkan mereka yang terlambat dan para pembimbing regu silahkan mulai mengabsen anggotanya” teriak kak azka lantang mengomando para panitia lainnya, seketika para komdis berhamburan sebagian menuju pintu gerbang sebagian lainnya ke arah belakang kami untuk mengantisipasi mereka yang melompat pagar diam-diam.
“Para pembimbing regu silahkan serahkan absensi ke kak sholeh” kak sholeh adalah wakil kak azka, setelah menerima semua absensi dari para pembimbing regu kak sholeh menghampiri kak azka membisikkan sesuatu, kak azka hanya terlihat mengangguk kemudian menoleh merespon info yang dia terima kemudian memberi insstruksi lanjutan, kak sholeh mengangguk kemudian berdiri maju beberapa langkah di depan kak azka “silahkan kelompok yang saya sebutkan langsung masuk ke dalam gedung rektorat, tanpa suara, tanpa kebisingan, paham?” teriak kak sholeh “paham” jawab kami serentak “kelompok tiga, kelompok enam, kelompok tujuh silahkan masuk”. Kelompok yang disebutkan mulai bergerak, bersamaan dengan itu kak azka menghampiri ketua panitia yang serentak melambaikan tangan pada bagian acara setelah berbincang dengan keduanya mereka langsung masuk ke ruang dimana acara akan dilaksanakan, kemudian kak azka memanggil seorang komdis bernama agus berbicara sebentar yang ditanggapi dengan anggukan dan kak agus langsung menghampiri seorang komdis lain kemudian mereka juga masuk ke ruangan acara, dari apa yang aku lihat disini sepertinya kak azka meminta mereka mulai menyiapkan acara dan mengkondisikan para peserta yang sudah memasuki ruangan.
“Semua diam tanpa suara” tiba-tiba terdengar teriakan yang membuyarkan semua analisa yang aku lihat tentang kak azka, “JANGAN BISING” teriakan lainnya menyahuti, “saya bilang silahkan masuk tanpa suara tanpa kebisingan” kali ini suara lantang kak sholeh yang membuat kami terdiam, tak hanya diam, sebagian dari kami menunduk, kelompok yang berjalan masuk ke dalam ruangan mulai berbicara dan mengobrol dengan teman-temannya, mungkin itu ekspresi wajar karena mereka pikir mereka sudah lolos dari razia, luapan kelegaan mereka, dan dari yang aku tangkap hanya kelompok yang anggotanya lengkap yang boleh masuk, karena setelah aku hitung semua kelompok yang masuk setiap kelompoknya berjumlah dua belas orang dan artinya tak ada anggota mereka yang terlambat, “sebentar lagi kelompokku juga akan disuruh masuk kalau begitu” batinku. Dan benar saja beberapa saat kemudian kak sholeh memanggil kelompok delapan yang merupakan kelompokku, kelompok sembilan dan kelompok dua belas, aku, menghela nafas lega.
Dan dari semua analisa yang ku lihat pagi ini aku beri kak azka dua jempol, hebat, jadi wajar saja kalo kak ve percaya sama dia, sampai dia berani menitipkan kami padanya, bertanggung jawab, efisien, cekatan dan nyaris tak ada yang terlewatkan, karena menurutku hanya satu yang ia lewatkan, yakni membalas senyum dariku, tapi itu tidak mengurangi jatah jempolku padanya, karena ia sedang bertugas jadi harus profesional, aku tebak karakternya koleris perfeksionis, perpaduan kuat yang bisa saja menyeramkan kalau sudut pandangnya kaku.
Sebagian besar peserta sudah memasuki ruangan, mereka yang terlambat dihukum di luar, ada yang dijemur sambil hormat ke bendera, ada yang disuruh mungutin sampah, ada yang disuruh bantuin panitia bawa-bawa konsumsi, tiba pembimbing kelompok kami kak diana menghampiriku, “ervina ditunggu kak azka di bawah” kata kak diana pada vina teman kelompokku yang duduk di sebelahku, aku bertanya pada kak diana kenapa vina dipanggil kak azka, tapai sepertinya dia juga tidak tahu kenapa “tadi azka Cuma minta tolong buat manggilin vina” jawabnya singkat, ervina adalah anak salah satu pembantu dekan fakultas ekonomi, wajahnya cantik kulitnya putih gayanya modis, dia masih kelihatan cantik meski dalam busana ospek dan beberapa pita aneh di rambutnya, “apa kak azka naksir sama vina ya?” batinku, wajar sana karena sejak awal masuk memang ada beberapa senior, juga panitia yang menaruh perhatian pada vina, kadang untuk menarik simpatinya beberapa senior juga memberi perlakuan khusus terhadapnya, “ah kalau kak azka juga seperti itu gak jadi keren ah” aku berbicara dengan diriku sendiri, “tapi wajar saja kan tiap manusia punya kelemahan punya sisi negatif” ada perdebatan dalam diriku tentang semua ini, vina belum juga kembali, kursi sebelahku Cuma ada barang-barang vina.
Tiba-tiba kak diana mencolekku dan berbisik “dipanggil azka di bawah” ia sengaja berbisik karena acara sudah dimulai dan tidak mau mengganggu konsentrasi peserta yang lain, aku langsung berdiri perlahan menaruh barang-barangku di kursi, berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun karena aku tidak mau semua mata menoleh ke arahku karena aku mengganggu konsentrasi mereka, meski masih saja ada beberapa diantara mereka yang melihatku dengan mata bertanya-tanya, akupun juga bertanya-tanya, apa ada yang salah dengan aku, bagaimanapun kak azka kali ini adalah koordinator komdis, bukan sedang berperan sebagai teman kak ve, selepas menuruni tangga aku bertanya pada panitia lain, “kak, kata kak diana aku dipanggil kak azka, kak azkanya ada dimana ya?” “depan dik” jawabnya singkat” aku langsung menuju ke pintu keluar gedung dari jauh dari balik pintu kaca depan sudah napak kak azka sedang berdiri di depan vina yang nampak tertunduk.
“Permisi kak, kakak memanggil saya? Ada apa kak?” tanyaku setibanya di depan kantor rektorat “oiya manda, tolong kamu sebutkan dimana batas peserta boleh diantar, kamu masih ingat?” “masih kak, peserta boleh diantar hanya sampai pintu gerbang” “kamu dengar vina?” “iya kak tapi kan kakak seniornya sendiri yang tadi mau nganterin sampai depan gedung, saya sudah bilang sampai gerbang saja kok” memang pada peraturan yang waktu itu dibacakan kak sholeh kami para peserta hanya boleh diantar sampai depan pintu gerbang saja, waktu itu kak sholeh yang membacakannya, entah karena waktu itu kak azka sedang tidak ada karena sedang bertanding futsal atau itu memang tugasnya kak sholeh. “yasudah terimakasih ya manda, kamu boleh kembali ke ruangan, tolong jangan berisik” “iya kak” “dan kamu vina kamu sudah sadar dengan kesalahan kamu?” “iya kak” “sekarang silahkan berdiri hormat menghadap bendera sampai saya menyuruh kamu untuk masuk lagi nanti” “iya kak”.
Ternyata kak azka memanggil vina bukan karena perhatian khusus, aku salah, memang tadi pagi vina diantar senior sampai depan kantor pusat, semua panitia melihatnya dan kak azka juga berad disitu, tapi dia tidak melakukan apa-apa tadi, dia juga tidak berkata apa-apa, mungkin karena itu masih belum masuk waktu wewenangnya dan senior itu juga bukan berada di bawah kewenangannya, memang seharusnya vina yang minta agar diturunkan di depan gerbang karena dia sendiri yang akan menanggung konsekuensinya. Saat pulang ke kos aku tak melihat kak ve di kamar kata mbak kos dia sedang keluar bersama kak azka, sekitar jam sebelas malam dia baru pulang dan langsung tidur.
****
Di hari ketiga aku sama sekali tak melihat kak azka, entah kenapa semua tugas-tugasnya di handle kak sholeh bersama komdis lainnya, acara berjalan lancar meski ada sesi stressing yang lumayan membuat dag dig dug, bahkan sebagian peserta cewek ada yang sampai nangis, sore harinya aku pulang ke kos dan sehabis maghrib kami semua harus kembali ke kampus untuk acara malam terakhir ospek, menjelang acara jelajah malam baru aku melihat kak azka lagi, dari obrolan yang ku dengar antar sesama panitia ternyata dia ijin untuk istirahat siang tadi karena besok dia ada pertandingan, karena tidak mungkin dia tidak hadir di malam puncak ini dan kalau dia harus hadir dari siang tentunya terlalu beresiko untuk staminanya, yayaya, aku mengerti kenapa seharian tadi aku tak melihatnya.
****
Kak diana pembimbing kelompokku menghampiriku dan berkata “dik ada yang nyariin di bawah” “emang boleh turun kak?” “boleh, tapi jangan lama-lama ya” “iya kak”, segera aku keluar ruangan dengan langkah yang ku percepat bahkan setengah berlari, di bawah ku lihat kak ve sudah menungguku bersama kak aida, kak aida adalah teman dekat kak ve, teman satu kos, bahkan satu kamar juga, mereka satu angkatan meski beda jurusan, “dek sini” ujar kak ve ketika melihatku”, “ada apa kak?” “ini” ujarnya sambil menyodorkan plastik, ku buka isinya sebotol susu hangat dan sebatang coklat, “buat aku kak?” “bukan, nitip kasihkan ke azka ya, hehehe” “ye, kak azka mulu” sahutku sambil manyun “lagian kenapa gak sms atau telfon kasih langsung ke orangnya sendiri gitu” “lagi buru-buru soalnya ada acara sama teman-teman UKM” “jadi buat manda gak ada nih?” “gak ada, nanti aja deh, nitip ya adekku yang cantik” “dasar kalau ada maunya saja baru muji-muji” seruku menggerutu, “yaudah aku berangkat dulu” “iya hati-hati, jangan lupa ongkos kirimnya besok beliin es krim, hehehe” “iya iya”. Aku langsung naik kembali ke ruangan kembali ke tempat dudukku, di pintu ku lihat kak viona “kak sudah” “iya dik, langsung masuk kembali ke tempat duduknya ya!” “iya kak, eh lihat kak azka nggak kak?” “kayaknya lagi keliling bareng yang lain tuh, emangnya ada apa?” “gak kok kak gak ada apa-apa” “yasudah sana masuk” “iya kak”.
Saat waktu istirahat sebelum jelajah malam dimulai ku hampiri kak azka yang lagi ngobrol bersama panitia lainnya, agak takut juga sih soalnya ada beberapa panitia lainnya disana, saat aku hampir dekat dengan mereka salah seorang panitia memanggilku “eh mau kemana? Istirahat sana jangan keluyuran” “sebentar kak ada perlu ke kak azka” seketika itu kaka azka langsung menoleh “ada apa dik?” “bisa bicara sebentar kak?” kak azka langsung berdiri menghampiriku, kemudian ku jelaskan kalau ada titipan dari kak Ve buat dia, kak azka hanya geleng-geleng “pake repot-repot segala dasar ve”, lalu kami menuju ruangan karena barangnnya ku simpan di tasku, setelah ku serahkan kak azka bertanya “napa gak dikasih sendiri katanya?” “buru-buru katanya kak ada acara bareng teman-teman UKM” “oalah, iya iya sampai lupa aku, yaudah habis ini aku telfon dia buat bilang makasih sekalian ijin gak dateng kumpul UKM, kamu istirahat sana biar gak sakit” “iya kak” “eh, makasih ya” “iya, hehehe”.
****
“Ayo semuanya bangun, langsung kumpul di depan gedung” “bangun bangun” “cepat kumpul” teriakan demi teriakan menggema dalam ruangan kami kaget, hanya tak lebih dari satu jam istirahat, namun ada juga beberapa dari kami yang sempat tertidur pulas, sebagian hanya menghabiskan waktu itu untuk berselonjor sambil mengobrol, “silahkan semuanya turun” teriakan kali ini lebih keras, bahkan sangat keras, entah siapa yang meneriakkannya, kami tak berusaha mencari asal suaranya karena yang kami tahu hanya agar segera bergegas turun dan berkumpul di bawah. Sesampainya di bawah juga tak kalah ramai, semua panitia terutama komdis berteriak mengomando kami agar segera membuat barisan sesuai dengan kelompok masing-masing, “silahkan berdiri di belakang pembimbing kelompoknya” tak begitu keras namun cukup lantang, dan aku mengenal pemilik suara itu meski tanpa melihatnya, itu suara kak azka, segera aku mencari keberadaan kak diana, menemukannya tak semudah yang kalian bayangkan, cahaya yang temaram dan ada ratusan orang yang berseliweran di sini, keberadaannya tentu saja terhalangi para peserta lain yang juga sedang mencari barisan kelompoknya, akhirnya aku berhasil menemukan kak diana kemudian aku berlari ke arahnya dan berbaris di belakangnya.
****
Beberapa menit kemudian kami semua sudah berbaris rapi di belakang pembimbing regu masing-masing, di sudut lain para panitia juga sepertinya sedang berkumpul berkoordinasi, hanya ada beberapa panitia yang mengurus kami, kemudian kami diminta mengeluarkan sapu tangan dan lilin yang sudah kami bawa, pembimbing kelompok mengumpulkan lilin yang kami bawa dan mulai meminta kami memakai sapu tangan untuk menutup mata kami,, seketika semuanya menjadi gelap, kami berpegangan satu sama lain, memegang bahu teman yang berdiri di depan kami, ada tiga pos yang akan kami lalui malam ini sebelum acara puncak dimulai, di pso satu kami akan ditanya tentang materi yang kami dapat beberapa hari ini, di pos dua kami akan berdiskusi tentang organisasi, dan di pos ketiga yang mereka sebut dengan pos neraka adalah penggemblengan mental.
Setelah melewati pos satu dan pos dua akhirnya kami sampai di pos tiga, dari jauh sudah kedengaran suara teriakan panitia di pos ini, malam ini dingin, tapi tanganku berkeringat, ada rasa khawatir yang lebih besar dari dingin malam ini, tak ada satupun dari kami yang tahu siapa yang akan menguji kami, dan apa yang akan mereka lakukan pada kami, kami tak lebih seperti korban penculikan yang tak tahu ada dimana, dengan siapa kami berhadapan dan apa yang akan mereka lakukan pada kami. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan satu hal yang benar-benar di luar nalar kami, “selamat datang di pos neraka” itulah hal yang mereka teriakkan di kuping kami, benar-benar pas di kuping teriaknya, jadi menurut teoriku saat kami berhenti tadi ada beberapa panitia yang sudah berdiri di kanan dan kiri kami dan menunggu komando dari seseorang di antara mereka untuk melakukan itu, serentak reflek tubuhku menarik tangan untuk menutupi telinga, meski sudah tahu itu terlambat, setidaknya untuk menimalisir dengung yang masih tersisa, aku pikir tak hanya aku yang begitu, semuanya pasti melakukan yang sama, tapi belum selesai kejutan pertama rupanya mereka sudah menduga reaksi apa yang akan kami lakukan, mereka mulai menarik tangan kami, tak ayal kami tak lagi bersama, kami yang hanya dihubungkan dengan tangan yang memegang bahu teman di depan kami kini sudah tercerai berai.
Kami makin panik dan berusaha memanggil nama teman kami, kami saling mencari dengan memanggil dan berusaha meraba, aku dapat, “kamu siapa?” tanyaku, “aku vina, kamu?” jawbanya, “aku manda vin”, dan tiba-tiba ada yang menabrakku, “siapa? Tanyaku, “dini” jawabnya “sini din” ujarku sambil setengah menarik tangan dini agar lebih dekat dengan kami, kami bertiga berpegangan erat, sesaat kemudian ada ng memegang pundakku, “siapa?” reflekku bertanya “kalian bertiga dengarkan suara saya, kenali suara saya, abaikan suara lain selain suara saya, paham?” “iya kak” aku mengenal suara itu, sangat kenal, itu suara kak azka, aku pikir teman-temanku juga mengenalnya.
“konsentrasi, kalian tahu disini ramai, sekarang kalian berada di bawah komando saya, jadi jangan sampai salah mengenal suara, paham?” “iya kak” “ikuti suara saya, melangkah pelan-pelan” ujar kak azka memberi petunjuk, aku berdiri paling depan, dini di belakangku dan vina paling belakang. “siapa?” suara vina agak keras, ”siapa vin? Kamu kan paling belakang” aku balik bertanya, “ada yang pegang bahuku, ada orang di belakangku”, “gak ada siapa-siapa di belakang kamu” ini suara kak azka, suaranya di depan, agak jauh, “jangan sampai kehilangan komando, bisa bahaya, cukup ikuti suara saya, abaikan hal lainnya” lanjutnya yang semakin jauh di depan, “biarin aja vin” ujarku sambil menarik tangan dini dan melangkah agak cepat, menurut prediksiku kami berada cukup jauh dari teman-teman yang lain sebab suara keramaian di pos tiga tadi hanya terdengar sekilas, dan kalau kami sampai kehilangan suara kak azka maka kami akan semakin kebingungan itulah kenapa aku memintaa vina mengabaikannya dan fokus pada suara kak azka, “aduh” seruku, aku tersandung, aku tidak waspada dan terlalu fokus mengejar suara kak azka, “kenapa nda?” tanya dini “gak apa-apa kok” jawabku singkat sambil melanjutkan langkah, “nunduk, ada ranting pohon” suara kak azka mulai terdengar jelas, hanya beberapa langkah di depanku, tanganku meraba ke depan, ada daun, dan aku sedikit menunduk, “nunduk din ada pohon” aku memperingatkan dini, aman, “aduh” suara vina di belakang, sepertinya dia menunduk di saat yang salah dan menabrak ranting, “kamu gak apa-apa vin?” “iya gak apa-apa kok”.
“Capek?” tanya kak azka, “capek kak” ujar kami serempak, “mau istirahat?” “mau” “yasudah silahkan tidur, aku mau balik ke pos” “hyaaaaaa, nggak kaaakkk” teriak kami, gila aja kalau sampai kami ditinggal disini bertiga, eh mungkin juga berempat sama yang nempel di bahunya vina, aku sebenarnya juga penasaran siapa yang memegang bahunya vina, mungkin ada panitia lain yang iseng, tapi mungkin juga bukan, “silahkan duduk, baris ke samping”, “akhirnya” batinku. Kami duduk, tangan kami masih berpegangan, antisipasi takut ad yang iseng agar kami tidak terpisah lagi, tapi kemudian ada sesuatu yang aneh, tidak ada lagi suara kak azka, beberapa saat lamanya tidak ada suara selain suara kami, setelah menyuruh kami duduk tadi itu adalah suara terakhir yang kami dengar dari dia, kami mulai panik, “kak… kak….” “kak….” “kak….” kami berusaha memanggilnya, nihil, tak ada jawaban, kami memanggil lebih keras, gaka ada jawaban juga, kami benar-benar panik akhirnya kami memutuskan untuk berdiri, tiba-tiba saat kami hendak berdiri “daaaarrrrr” suara kak azka mengagetkan kami, dan itu sukses membuat kami berteriak dan kembali jatuh terduduk, aku cukup geram dibuatnya, “awas ya besok tak aduin ke kak ve” batinku. Sepertinya kak azka duduk di depan kami, “mari kita mulai” ujarnya singkat, hah, mari kita mulai dia bilang, jadi dari tadi itu apa? Pemanasan? Seenaknya saja bilang, aku pikir ini semua sebentar lagi berakhir, dan ternyata dia bilang baru mau mulai?, ingin rasanya ku lontarkan semua kekesalanku kali ini, namun hanya desah kesal yang bisa aku lakukan.
“Sudah siap?” tanya kak azka “iya kak” jawab kami, “boleh nanya kak?” ini suara dini “silahkan” “apa semua peserta mendapat kejutan dan perlakuan yang sama seperti yang kami alami?” ”tidak, semuanya beda-beda, setiap panitia punya treatment-nya sendiri-sendiri” “kenapa beda?” “karena setiap panitia punya pesan yang ingin dia sampaikan sendiri-sendiri, jadi kesan yang akan ditangkap setiap peserta juga akan variatif, sudah selesai dengan pertanyaannya? Atau kita akan lebih lama disini, aku sih santai, disini bagus kok, sepi, bisa lihat bintang juga”. “bintang mulu, demen banget sih sama bintang emang yang bagus apanya coba” gumamku kesal, “sudah kak” jawab dini. “oke aku punya beberapa permainan disini, yang pasti ada reward and punishment” kak azka menjelaskan, kata punishment cukup membuat kami menelan ludah, atau mungkin hanya aku saja, “apa saja pelajaran yang kalian dapat dari setiap kejadian di malam in?” “saat bersama-sama kita merasa lebih aman dari pada sendirian” jawab vina “bisa” tanggapan kak azka singkat, “saat anggota tubuh kita terancam anggota tubuh lain akan secara reflek melindunginya, seperti halnya berkedip saat kelilipan atau menarik kaki secara cepat ketika menginjak duri” kali ini giliran dini yang mengutarakan pendapatnya “hem, bisa juga”, aku masih memutar otakku dan akhirnya ada yang terlintas di kepalaku “saat salah satu indera dimatikan fungsinya maka indera lainnya akan menjadi beberapa kali lipat lebih peka, sama halnya ketika mata kita ditutup maka indera pendengaran dan peraba kita akan jauh lebih peka merespon informasi dan perintah dari syaraf” “oke bagus, smuanya benar, silahkan semuanya maju selangkah dan ambil barang yang ada di depan kalian”, kami menggeser duduk kami selangkah ke depan dan kami menemukan bungkusan plastik kecil, sepertinya permen, “silahkan dimakan hadiahnya”, lumayan biar gak kering mulut, dan kami mulai bisa menikmati permainan ini, meski kami juga takut karena belum tahu seperti apa permainan selanjutnya.
Seperti bisa membaca pikiranku kak azka kemudian bertanya “kalian takut?”, aku mengangguk, entah kedua temanku sama sepertiku atau tidak, “ kenapa takut?” “gak bisa liat” jawab dini “gak tahu dimana” vina menimpali “gak tahu apa yang akan terjadi” sahutku, “rasa takut, panik atau sejenisnya muncul karena didasari ketidak tahuan, tidak tahu apa yang sedang dan akan terjadi, tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu harus kemana, dan saat kita panik otak kita menjadi sebesar bola tenis, sedangkan nyali kita menjadi beberapa kali lebih besar dari diri kita, makanya orang yang sedang takut atau panik seringkali bertindak sesuatu yang nekat dan membahayakan dirinya” kami hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan kak azka, “contohnya, saat terjadi kebakaran di salah satu gedung dan kita berada di dalamnya, kalau kita tidak tahu dimana pintu darurat maka yang pertama kita lakukan pasti mengikuti kemana kebanyakan orang mengarah, ada yang lompat jendela ada bersembunyi. Lainnya, misalnya bunuh diri karena patah hati atau skripsi gak kelar-kelar. paham ya.” “iya kak”.
“Oke mari kita lanjutkan, aku akan memberikan kalian minuman dan kalian harus menebak nama minuman itu” mudian kak azka menyodokan gelas plastik ke tanganku, aku meminumnya pelan-pelan mencoba menebak rasanya dengan ujung lidah dan bibir sebelum menenggaknya “sinom” kataku beberapa saat kemudian, “salah, silahkan mundur satu langkah”, setelah beberapa saat terdengar suara dini “temulawak”, “benar, silahkan maju satu langkah”, sekarang giliran vina, “cincau” jawab vina, ‘benar, silahkan maju satu langkah”, ah sial hanya aku saja yang salah, “selanjutnya aku akan mendekatkan sesuatu ke hidung kalian, silahkan cium dan tebak benda apa itu”, “dini” panggil kak azka, “daun pandan kak” “benar silahkan maju”, “vina”, “jeruk nipis kak” “salah, mundur”, tiba giliranku, aku mencium bau yang tidak enak, ini buah tapi aku lupa namanya, nenekku sering menjadikannya jamu, “gak tahu kak”, “silahkan mundur”, sebagai hadiahnya kak azka mengijinkan dini membuka penutup matanya, dan sebagai hukumannya aku harus berhitung sampai dua puluh baru aku boleh membuka penutup mataku, saat aku baru menghitung sampai sepuluh tiba-tiba ada yang memberikan kertas ke tanganku, sepertinya kak azka, setelah selesai menghitung aku membuka ikatan sapu tanganku pelan-pelan, malam sudah tak terlalu gelap ini sudah menjelang fajar, ku lihat secarik kertas di tanganku yang kemudian ku baca “ujian akan selalu datang, ada yang melangkah seiring waktu namun ada juga yang tertinggal, jangan terlalu lama terpaku, melangkahlah” dan saat aku selesai membacanya ku lihat kak azka berjalan bersama kak viona yang ternyata semalaman mendampingi kami dini di belakangnya dan vina berlari mengejar mereka sambil memegang kertas yang sama dengan yang aku terima, aku lantas berdiri kemudian berlari mengejar mereka.
****
Pagi harinya seusai sholat subuh dan sarapan ada acara penutupan, biasalah, panitia favorit, panitia yang paling dibenci, dan hal-hal lainnya, acara ditutup ucapan terimakasih dan kata maaf oleh kak arif selaku ketua panitia, kak azka sedikit menambahkan, kurang lebih begini kata-katanya “saya atas nama pribadi dan mewakili rekan-rekan komdis mau mengucap kata maaf apabila ada kata dan sikap yang masih menyisakan dendam di hati kalian, kami tidak pernah bermaksud buruk, tujuan kami hanya memberikan ikatan antar kalian jadi mulai saat ini kalian sudah selayaknya saudara, pernah menumpahkan amarah keringat dan airmata bersama, dan kami juga ingin menyampaikan pesan jika suatu saat kalian punya alasan untuk menyerah karena rintangan dan kesulitan, aku harap kalian mengingat malam tadi dan beberapa hari yg lalu, semoga itu cukup memberi kalian alasan untuk tidak menyerah, aku tidak bilang jika kalian tidak menyerah maka kalian akan berhasil, tapi yang aku tahu jika kalian menyerah maka sudah tidak ada lagi harapan yang tersisa. Mungkin masih ada yang sakit hati sama saya, silahkan maju, tuntaskan itu, kalian boleh ngapain saja, mau pukul, meludahi, mencaci, berteriak di telinga saya, silahkan”, kemudian beberapa orang mulai bergerak maju, aku mulai panik, aku pikir mereka akan melakukan sesuatu sebagai pembalasan karena aku yakin tak semua orang disini suka dengan kak azka, ada beberapa diantara kami yang tidak suka, arman peserta pertama yang berhasil sampai di depan kak azka, namun kecemasanku ternyata tak terbukti, dia hanya menjabat tangan kak azka dan mengucapkan terimakasih, yang lainnya juga begitu, ada yang memeluknya, ada juga yang mencium tangannya, aku juga, dan kami melakukan hal yang sama kepada para panitia lainnya. Terimakasih kak azka.
****
Lega sudah, ospek sudah selesai, aku mengirim pesan kepada pacarku, bercerita sebagian besar tentang ospekku, aku juga bilang kalau aku rindu dia, selama ospek komunikasi kami sangat minim, jadi wajar kalau aku rindu, mungkin dia juga, setelah beberapa kali berbalas pesan akhirnya aku merasa ngantuk dan aku bilang kepadanya mau istirahat, akunjuga ingtin dia agar tidak lupa makan dan tetap jaga kesehatan karena aku tidak mau dibilang pacar yang tidak perhatian. Namun saat aku hampir terlelap selintas aku memikirkan tentang kak azka, tentang kondisi dia yang harus bertanding sebentar lagi sementara semalaman dia begadang ngospek kami, ah dia pasti baik-baik saja, “semangat ya kak azka”, ucapku meski aku tahu dia takkan mendengarnya.
****
Aku sudah mulai kuliah normal, beberapa hari ini masih biasa, isinya sebagian besar Cuma kontrak kuliah saja, hubunganku sama pacarku juga baik-baik saja, kami masih hanagat, masih komunikasi hampir setiap saat lewat sms, kadang dia juga datang menjengukku ke kos, kadang juga mengajakku makan malam kemudian mengantarkanku ke kos sebelum dia balik, dan kabarnya kak azka juga sepertinya sehat, kadang dia sms aku atau fira untuk mengecek keadaan kami, kadang juga bawain es krim ke kos, dan kalau dia lagi gak ada kegiatan dia selalu mengantarkan kami untuk beli makan, tapi bergantian kadang adikku dan dia yang beli makanan terus aku dibungkusin kadang juga aku yang pergi dan kami bungkusin buat adikku, semuanya berjalan normal, dan aku juga baru ingat ternyata kami sudah pernah bertemu dengan kak azka sebelum kami masuk kuliah, waktu itu kami main ke kos kak ve untuk mengambil kamera digital, soalnya kami mau ada acara tur ziarah wali dan kebetulan waktu itu kameranya lagi dipinjam kak azka, dan dia nganterin kameranya ke kos kak ve, meski Cuma sampai gerbang sementara aku dan adikku di halaman, yah, jadi itulah hari pertamaku bertemu kak azka, dan itu juga kenapa waktu melihatnya aku merasa tidak begitu asing dengan dia, oiya pertandingan futsalnya kak azka menang, dan kami dapat traktiran es krim.
****
Hari itu adalah hari dimana tirai tersibak, dimana aku bermuram, mantanku, sebut saja namanya ridwan, aku mendengar dia akan menikah, saat kami berpacaran memang dia sudah punya tunangan ketika itu, kami masih sering bertemu meski aku juga sudah punya pacar, ku pikir dengan punya pacar perasaanku pada ridwan akan terkikis seiring waktu namun ternyata tidak demikian, aku masih sayang sama dia, dan dia bilang juga seperti itu, aku percaya pada kata-katanya karena hubungan pertunangannya itu adalah sebuah skema perjodohan dari kedua belah pihak orang tua dia dan tunangannya, akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami karena aku berusaha berpikir dari pihak yang dirugikan dan juga dari pihak tunangannya yang juga psti tersakiti jika dia mengetahui hubungan kami, dan hubungan kami seperti membangun sebuah fondasi yang di dalamnya aku tahu sudah ada bom waktu yang siap menghancurkan seluruhnya jika waktunya sudah habis, maka akan lebih baik jika aku berusaha melangkah dan move on dari dia meski itu sakit dan sulit, dan setiap memikirkan itu setiap malam airmataku berlinang.
Aku mengganti nomer ponselku, sebab dia masih saja berusaha menelfonku, jadi ku pikir itu satu-satunya cara agar aku bisa menghindar darinya, dari telfon darinya dari sms-sms darinya yang cukup membuatku pilu hingga kadang terasa sesak dan sulit bernafas. Siang itu aku baru pulang dari kampus, aku sudah sampai di kos sebelum sekitar jam sebelas siang, ku buka tasku dan berusaha menemukan kunci kamar yang biasanya selalu ku letakkan di kantong paling depan tas selempangku, namun nihil, aku mencoba merogoh lebih dalam, ku keluarkan semua barang di dalam kantong itu namun tetap saja aku tak bisa menemukan kunci kamarku, aku berpindah mencari di kantong besar bagian dalam tasku, namun tetap tak ada kunci kamarku disana.
Akhirnya aku memutuskan untuk menelfon fira, namun tak ada jawaban dia tidak mengangkat telfon dariku, beberapa menit kemudian ada sms masuk, dari fira, “maaf ini siapa?” begitu isi smsnya, seketika aku baru sadar kalau ini nomer baru dan aku belum memberi tahunya, jadi wajar saja dia tidak mengangkat telfon dariku, dia memang tidak pernah mengangkat telfon dari nomer baru apalagi nomer pribadi, akhirnya aku bilang itu nomer baruku dan aku butuh kunci kamar soalnya kunciku ketinggalan di dalam, tak kurang dari sepuluh menit akhirnya dia tiba di depan kos dengan dianterin mas azka, aku sekarang memanggilnya mas, lebih enak aja, lagian ini juga sudah bukan masa ospek jadi sah-sah saja menurutku, rupanya mereka baru selesai makan siang dan mampir sebentar di kos mas azka, dan ternyata fira juga sudah cerita tentang aku yang baru ganti nomer, tapi tadi dia Cuma menyapa saja kemudian langsung berangkat lagi, aku juga tidak khawatir toh juga Cuma mas azka yang tahu dan suatu saat dia pasti tahu juga saat aku sms dia nantim, jadi sekarang ada tiga orang yang tahu nomer baruku, fira, pacarku dan mas azka, saat makan siang tiba-tiba ponselku bergetar, sepertinya mode vibrate only yang tadi ku aktifkan saat di kelas belum aku ganti, ada sms, ku abaikan saja, ku buka setelash selesai makan saja toh ini juga sudah hampir habis, “nanti malam ikut aku”, begitulah yang tertera di layar ponselku saat aku menekan tombol read, dari mas azka, aku jadi bertanya-tanya, ada apa ya? Kok tiba-tiba, apa dia tahu masalahku dengan mantanku?, aku berusaha mengira-ngira apa yang akan dia tanyakan kalau memang dia tahu tentang masalahku jadi aku bisa menyiapkan jawabannya untuk menghindar, namun aku juga berusaha berpikiran positif kalau mas azka Cuma akan mengajakku jalan-jalan atau cari makan saja, “jam berapa mas?” ku ketik di ponsel kemudian ku kirim ke mas azka, ponselku bergetar lagi, “setelah isya”’ begitu isinya singkat, “oke” ku balas tak kalah singkat mengiyakan.
Jam setengah delapan mas azka sms, dia bilang kalau dia sudah ada di depan gerbang kos, memang begitu kebiasaannya, dia tidak pernah memanggil atau minta tolong teman-teman kos untuk memanggilkan kami, aku keluar setelah berpamitan ke fira kalau aku mau keluar sama mas azka, dia cuma mengiyakan sambil masih melanjutkan tugas kuliahnya yang katanya dikumpulkan besok pagi, aku menutup pintu kamar setelah mengucapkan salam.
Dari teras kos sudah dapat ku lihat di depan gerbang mas azka menunggu di atas motor tuanya memakai celana jeans dan kaos putih yang dibalut jaket hoodie berwarna hitam, selalu begitu setiap dia menunggu kami, dia selalu memakai tudung jaketnya dan menundukkan kepala, dia tidak pernah protes seberapa lama dia harus menunggu, yang aku tahu dia akan mengirim sms saat sudah berada di gerbang dan menunggu aku atau fira keluar, begitu juga malam ini.
Hatiku campur aduk, selain sesak karena masalah ridwan, sekarang aku tidak tahu apa yang akan terjadi, yang aku tahu aku akan dihujani pertanyaan oleh seorang koleris-perfeksionis yang selalu serius dan sistematis, sebenarnya aku tidak terlalu suka berhadapan dengan orang seperti itu, aku lebih suka orang yang sedikit santai dan humoris, namun setelah beberapa lama kenal mas azka dan sering bersamanya aku tahu orang sepertinya bisa memberi rasa aman saat bersamanya.
Motor sudah melaju, tak cukup kencang, malam ini cukup cerah namun jalanan memang sepi, karena lokasi kampus memang tak berada di pusat kota, dan lampu jalan masih di beberapa titik saja, jadi jalanan masih gelap dan lampu dari rumah-rumah di sekitar jalan sajalah yang membantu penerangan selain lampu sorot kendaraan bermotor, kak azka belum berbicara sepatah katapun dari tadi, dia menatap lurus ke depan memegang kemudi dengan satu tangannya sedangkan tangan satunya memegang tudung jaket agar tetap menutup kepalanya, setelah hampir sampai di warung langganannya laju motor sedikit dipelankan, mas azka sedikit menoleh sambil membuka tudungnya, “makan di tempat biasa saja ya?” “iya mas” “mau apa?” “terserah mas”, dan akhirnya kami sampai di warung kecil dengan bangunan semi permanen di sebrang sebuah mini market atau toserba lebih tepatnya, ada pohon asem di depan warung, mas azka memarkir motornya di bawah pohon asem itu dan kami masuk ke dalam warung, “biasa pak” kata kak azka pada pak kirman sang pemilik warung, biasa disitu artinya dua lalapan ayam goreng yang satunya tambah tempe dan satunya tambah telor plus dua gelas es jeruk manis.
aku sudah pernah kesini sebelumnya, dan kak ve pernah cerita kalau ini merupakan warung langganan mereka, selain murah makanannya juga enak, enak menurut versi kak ve sih, pak kirman pemilik warung juga ramah, aku juga sudah berkenalan dengannya waktu pertama kesini. Waktu itu beliau melihatku lama sekali saat kami baru sampai disana, dan sepertinya mas azka menyadari hal itu kemudian dia mengenalkanku pada pak kirman, “ini manda pak adiknya ve, ve sudah kerja di surabaya jadi jarang kesini” “oalah mas kirain udah putus terus ini yang baru, hehehe, maaf ya mbak”, “iya pak gak apa-apa kok” jawabku sambil tersenyum, dan sampai saat ini aku baru ingat lagi kalau aku belum sempat menanyakan status hubungan mas azka dengan kak ve, risih dan bingung mau bilang gimana dan nanyanya ke siapa.
Es jeruk kami sudah datang, aku mulai mengaduknya, dan mengambil sedotan yang disediakan di meja, mas azka juga mengaduknya tapi dia tidak pernah minum dengan sedotan, kotor ada debunya begitu alasannya, kemudian dia merogoh kantongnya, mengeluarkan sebungkus rokok, mengambil sebatang dan menyalakannya sebelum menaruh sisanya di meja, dia memang perokok, tapi aku tidak ada masalah dengan itu.
“Ada masalah apa?” tanyanya tiba-tiba sesaat setelah menghembuskan asap dari mulutnya, tapi dia tidak menatap ke arahku, dia hanya menoleh dan melirik sekilas kemudian kembali menatap ke depan “masalah apa mas? Maksudnya gimana aku gak ngerti?” jawabku retoris “kenapa ganti nomer?” seperti dugaanku ini tentang itu dan masih seperti yang aku perkiraan orang seperti dia tidak pernah basa-basi langsung to the point, “hehehe, pengen ganti aja mas” jawabku asal dengan tawa yang ku buat-buat, “ohh, jadi Cuma pengen ganti nomer?” “iya mas” jawabku cepat, dan aku pikir aku sudah selamat sebelum dia melanjutkan kata-kata yang cukup membuatku menyadari bahwa dia cukup cerdas dan bisa menganalisa dengan tajam, “nomermu yang sebelumnya lebih bagus tapi kalau memang kamu mau ganti ya gak apa-apa, dan kalau kamu memang belum mau cerita sekarang juga gak apa-apa kok” dan itu Cuma bisa membuatku menelan ludah sambil nyengir, buru-buru aku menarik sedotan ke arah bibirku dan memasukkan beberapa mililiter es jeruk untuk membasahi kerongkonganku yang terasa kering.
“Pakai sendok atau kobokan mas?” teriak pak kirman dari dalam, “kobokan pak” sahut mas azka, kemudian mas azka menjelaska padaku kalau biasanya kak ve makannya pakai sendok sedangkan mas azka lebih suka pakai tangan, aku cuma manggut-manggut. Makanan kami datang dan kami mulai makan, aku tidak menghabiskan nasiku, porsinya terlalu banyak, selesai membayar kami berpamitan pada pak kirman, “mau langsung pulang apa mau ikut aku?” tanya mas azka sambil berusaha menyalakan mesin motor, “mau kemana mas?” “kalau ikut nanti juga tahu” “yasudah manda ikut mas” aku memilih ikut dengan tujuan menemukan situasi yang setidaknya lebih baik daripada aku harus kembali ke kos dan kembali memikirkan ridwan yang ujung-ujungnya Cuma bakalan bikin nangis.
Kami berdua menikmati malam, atau lebih tepatnya malam yang menikmati kami, karena jalanan sepi dan gelap malam terlalu perkasa bagi lampu-lampu neon yang berusaha melawannya, dan aku pikir kehadiran kami di jalanan cukup menjadi hiburan bagi sang malam, lima belas menit perjalanan mas azka mulai memelankan laju motor sebelum menepi kemudian berhenti, “sudah sampai mas?” tanyaku penasaran “belum, mau beli-beli dulu tunggu bentar” dan mas azka langsung menuju ke warung yang berjarak hanya tiga meter dari lokasi motor diparkir, sekitar lima menit mas azka keluar dari warung itu dengan dua bungkus susu hangat dan dua gelas air mineral yang dibungkus plastik, “ini bentar lagi juga sampai kok” katanya setelah menyerahkan plastik itu ke tanganku.
Kami mulai memasuki jalan kecil, lampu jalan hanya beberapa yang menyala, ada gedung tua di sebelah kiri sebelum aku menemukan loket di tengah jalan, menurut perkiraanku ini adalah sebuah dermaga tua yang sudah tidak beroperasi lagi, mas azka mengarahkan motor ke ujung jalan, memarkirnya di dekat besi tempat mengikat tambang kapal, kami duduk di semen pembatas jalan dan air laut di bawah kami sepertinya sedang surut, mas azka membuka plastik yang tadi aku pegang, mengeluarkan air mineral dan membuang isinya setelah membukanya, kemudian memindahkan susu hangat ke dalam gelas plastik bekas air mineral tadi, “sambil diminum biar gak kedinginan” ujarnya setelah selesai menuangkan susu, “iya kak”, “bulannya lagi bagus, kemarin purnama jadi sekarang masih bulat dan untungnya gak mendung”, aku Cuma mengangguk.
Aku duduk sambil mengayun-ayunkan kakiku, yang aku dengar hanya irama desir bisikan angin berpadu debur ombak, bulan bersinar nyaris sempurna, dan bintang-bintang berada sedikit jauh darinya, sepertinya mereka juga sedang menatapnya, di kejauhan kelip lampu kota juga terlihat indah, aku pun larut dalam suasana hening ini. Mas azka duduk di sampingku, tatapannya jauh ke depan sana entah apa yang dia perhatikan, kami tak berbicara sepatah katapun, kami menikmati kesunyian yang indah ini, aku menatap ke atas, menengadah pada sang rembulan, selain untuk mengaguminya aku juga berusaha menahan mataku yang sudah mulai terasa panas, aku tak mau airmataku tak tertetes karena aku sudah tak sanggup membendungnya. Seolah semua masalahku terbias jelas di langit malam itu dan aku ingin semua masalah itu jatuh ke laut dan hilang dihempas debur ombak.
“sudah yuk, pulang” pelan suara mas azka membuyarkan lamunanku, aku keluarkan ponsel dari kantongku ku lihat jam dan ternyata sudah jam 12 lebih, tak terasa tiga jam lebih kami disini, “ayo mas” jawabku sambil memasukkan kembali ponselku, dan dalam perjalananpun kami tak berbicara sepatah katapun, dan akhirnya kami sampai di depan kosku, mas azka berpamitan setelah aku turun dari motornya dan aku melihatnya menghilang di tikungan di ujung jalan menuju kampus.
****
Malam ini cerah, haritadi pagi aku kuliah cuma empat sks saja, jadi Cuma sebentar saja di kampus, pulang dari kampus aku tidak langsung ke kos, aku tidak mau sendirian dan larut dalam kesedihan yang belum berujung ini, aku putuskan main ke kos yuni, yuni teman satu angkatan dan satu kelas, orangnya baik, polos dan terlalu lurus pada aturan, bisa dibilang nyaris kaku, tadi saat pulang dari kampus kami ketemu mas azka lagi boncengan bareng mas fadil teman satu kosnya, dia menyapa kami, yuni bilang mas azka cakep, dan jadilah topik permbicaraan kami dari kampus sampai kos yuni adalah tetntang mas azka.
“siapa tu nda?” tanya yuli. “mas azka” jawabku singkat. “Cakep ya” lanjutnya. “hemm, masa’ sih, biasa saja” aku sedikit menyanggahnya karena menurutku mas azka itu tidak cakep tapi manis. “udah punya pacar belum nda? Atau jangan-jangan pacar kamu ya?” kali ini dia seperti sangat penasaran. “gak tau sih udah punya pacar apa belum, tapi yang jelas dia bukan pacarku” aku menegaskan. “salamin ya nda” ujarnya genit. “insyaAllah kalu gak lupa ya” jawabku. Wajar saja kalau yuni belum kenal mas azka soalnya dia tidak ikut ospek karena sakit. Kos yuni agak jauh dari kosku, kosnya lebih jauh dari kosku, biasanya kami berangkat ke kampus bareng, setiap berangkat ke kampus dia selalu lewat di kosku dan menungguku, ada beberapa teman sekelas juga yang biasanya kebetulan berangkat bareng seperti anwar yang selalu menggodaku dengan gombalan mentahnya yang selalu menjadi bahan guyonan teman-teman, setidaknya ada teman ngobrol pas jalan ke kampus jadi capeknya gak begitu terasa.
Selepas sholat isya’ aku menegerjakan tugas kuliah, tiba-tiba ponselku bergetar, ah paling sms batinku, ternyata ponselku bergetar cukup lama yang berarti itu ada panggilan masuk, ternyata iman yang menelfon “assalamu’alaikum” ucapku setelah menekan tombol jawab, “wa’alaikum salam, lagi sibuk gak?” terdengar suara di seberang sana. “emm”. “aku lagi di jalan, lima menit lagi aku sampai di kos kamu” potongnya sebelum aku sempat menjawab bahwa aku ada tugas. “yasudah hati-hati aku tunggu di kos” jawabku akhirnya. “yasudah, assalamu’alaikum”. “waalaikum salam” kemudian aku menaruh ponselku di kasur.
“manda, ada temennya” teriak kak vera dari teras kos, “iya kak suruh tunggu bentar” jawabku juga setengah berteriak, buru-buru aku membereskan buku serta mengenakan jaket dan jilbabku kemudian keluar untuk menemui pacarku, “kok tumben?” tanyaku. “kenapa? Gak boleh ya?” jawabnya sambil tersenyum, “boleh saja sih, kenapa? Kangen ya? Manda emang selalu ngangenin, hahaha” selorohku. “hahaha” dia hanya tertawa. “sudah makan?” “belum” “ayo cari makan “ “iya, tapi aku sms fira dulu ya takut nyariin ntar klo dia datang” “iya buruan”, setelah sms fira kami langsung keluar, kami melewati warung andalan mas azka dan kak ve, ku lihat di bawah pohon asem ada motor mas azka terparkir disana, sedangkan kami berhenti di sebuah rumah makan yang lumayan besar, aku memesan ayam bakar dan segelas es jeruk, pacarku juga memesan hal yang sama, aku merogoh saku, baru ingat kalau pas di jalan tadi sepertinya bergetar tanda ada pesan masuk, ku lihat satu pesan baru, dari fira, dia bilang dia juga lagi di luar.
“siapa yang sms?” tanya pacarku sedikit menyelidiki, iman orangnya sedikit over protektif dan pencemburu. “dari fira kok” jawabku. “oiya sekalian tanyain dia mau makan apa biar kita bungkusin sekalian” ujarnya. “iya” jawabku singkat. Setelah ku kirim sms ke fira aku taruh ponsel di meja, beberapa saat kemudian ponselku kembali bergetar, aku sudah tahu itu dari fira dan iman pun juga pasti tahu itu jadi dia perlu bertanya itu dari siapa, ‘gak usah, ini juga lagi makan’ demikian isi pesannya. “gak usah yang katanya udah makan” uajrku ke iman menyampaikan. Kami mulai makan dan aku tahu tujuan iman menjengukku karena dia ingin menghiburku dan gak mau aku terus bersedih, dia sudah tahu ceritaku dengan ridwan sejak lama, karena sebelum kami pacaran dulu aku selalu curhat ke dia.
“sudah jangan terlalu dipikirin, kan sudah ada aku” ujarnya sambil menyantap makanannya. “iya, tapi namanya perasaan kan gak semudah itu, namanya sayang kan gak segampang itu dilupakan, ini juga lagi proses kok” jawabku. “tuh kamu jadi kurusan gara-gara banyak pikiran nanti sakit loh” kali ini dia menatapku seperti mau meyakinkanku bahwa aku memang jadi lebih kurus. “kurus kan yang penting sehat” ku pinjam kata-kata mas azka yang biasa dia pakai jika ada yang bilang dia kurus. Setelah selesai makan kami tak langsung pergi kami masih mengobrol, obrolan santai tetang aktivitas sehari-hari tentang kuliahku dan tentang usahanya juga, dan akhirnya setelah melepas rindu kami pulang, iman mengantarkanku ke kos, mampir sebentar karena karena tas dia dititipin di kamarku, biar gak terlalu berat dan pas nganterin aku dia juga masih ke kos lagi gitu katanya.
Aku ke dalam sebentar untuk mengambil tas iman sementara dia menunggu di depan gerbang, saat aku keluar membuka gerbang bersamaan dengan itu ada motor yang berhenti, fira baru datang dan yang mengantarnya adalah mas azka, aku jadi penasaran kok bisa fira diantar mas azka?. Spontan aku bertanya “loh dari mana fir kok bareng mas azka?”. “makan mbak” jawab fira cepat. “balik dulu fir, nda” pamit mas azka. “iya mas” jawab kami bersamaan. “eh ada mas iman, udah dari tadi mas?” tanya fira basa-basi. “iya dik, ini juga udah mau pulang” jawab iman. “yaudah aku masuk duluan ya mas” pamit fira. “iya dik” jawab iman. Aku menyodorkan tas ke iman, “itu yang namanya azka?” tanyanya dengan nada suaara yang sedikit sinis. “iya mas, kenapa?” jawabku penasaran. “kok modelnya kayak preman gitu?” tanyanya lagi. “mas azka memang gitu agak berantakan penampilannya mas tapi baik kok” aku menjelaskan. “kamu gak takut sama dia? Paling baik karna ada maunya saja” ujarnya. “gak kok mas, mas azka memang baik dia kan temannya kak ve, lagian gak boleh su’udzon loh kan dosa” sebenarnya aku sedikit geram aku gak suka dia jelek-jelekin mas azka meski dia pacarku, karena mas azka memang baik sama kami. “udah malem loh gak takut kemaleman pulangnya?” tanyaku ke iman, sengaja aku bilang begitu agar dia tidak lagi membahas tentang mas azka. “yaudah aku pamit ya, assalamu’alaikum”. “wa’alaikum salam” jawabku kemudian segera berpaling dan menutup gerbang.
“emang abis dari mana aja fir kok bisa dianterin mas azka?” tanyaku pada fira setelah sampai di kamar. “tadi ke kampus wifi-an ngerjain tugas terus pas mau pulang tadi ketemu mas azka katanya abis latian futsal, ke kosnya dia ganti baju terus makan bareng temen-temen futsalnya, ada mbak aida juga kok” jawab fira menjelsakan. Kak aida itu temen akrab kak ve, dia juga baru lulus tapi masih disini buka usaha warnet dekat kampus, dia dulunya mantan ketua ukm futsal.
****
Aku jadi kepikiran kata-kata iman semalam tentang mas azka, mas azka memang jarang berpenampilan rapi, celana yang bolong lututnya, kaos oblong, rambut yang hanya disisir jari, tapi sejauh ini aku mengenalnya sebagai orang baik, dan dia juga pintar, lagian kan gak mungkin kakakku sendiri menitipkan kami pada orang yang gak bener, paling iman Cuma cemburu saja sama mas azka makanya dia bilang gitu.
Hari ini aku ke warnet kak aida, ada file yang harus di print soalnya dosennya minta tugasnya dikumpulkan dalam bentuk hard-copy. “eh manda, ada apa?” sapa kak aida. “ini kak mau nge-print tugas” jawabku. “eh hari ini kuliahnya selesai jam berapa?” tanya kak aida. “gak ada kuliah sih kak sebenarnya, Cuma mau ngumpulin tugas ini saja ke kampus” “oh yaudah sekalian bareng aja ke kampusnya kalau gitu, aku mau ke sekret ada perlu” “sekret ukm futsal kak?” “iya, kenapa?” “boleh ikut gak kak?” “ayo gak apa-apa kok, malah seneng jadi ada temennya” “yaudah bentar nge-print dulu kak” “iya iya”.
Setelahs elesai ngeprint tugas dan memasukkannya ke dalam tas aku ke kampus bareng kak aida, di dekat kantin kami berpisah soalnya aku harus mengumpulkan tugasku dulu, “kak aku ke fakultas dulu ngumpulin tugas” “iya nda kakak tunggu di sekret ya, ntar langsung masuk aja gak ada siapa-siapa kok” “iya kak”. Aku langsung bergegas menuju fakultas dan segera mengumpulkan tugas kuliahku kemudian langsung menuju sekret ukm futsal, tujuanku tak lain hanya ingin tahu seperti apa ukm yang akan ku masuki nantinya, aku sudah mendaftar ukm ini pas ada pengenalan ukm, waktu itu ada pertandingan antara para pemain futsal yang sudah di ukm dengan mahasiswa baru, tapi mas azka gak ikut bermain, yang main Cuma tim kedua dan ketiga saja, soalnya tim utamanya waktu itu lagi ada turnamen, jadi aku belum pernah lihat mas aska main futsal.
Sesampainya di sekret aku mengetuk pintu, “masuk aja nda” teriak kak aida dari dalam, aku membuka sepatu kemudian langsung masuk, ku lihat ada beberapa piala terpajang disana, “sebagian lagi ada di kantor pusat” uajr kak aida menjelaskan saat aku melihat label yang tertera di piala-piala itu, kemudian aku mulai melihat foto-foto yang tertempel di ruangan itu, aku lihat susunan organisasi, tapi aku tak menemukan foto mas azka disitu, di sampingnya ada banyak foto yang disusun seperti mading disitu ada foto-foto saat menjuarai turnamen, ada beberapa foto mas azka disana. “ini azka, kamu npasti udah kenal dari ve kan, yang ini arif kapten sebelum azka dia masih disini tapi sibuk penelitian bentar lagi sidang, yang ini dani kapten sebelumnya lagi” “kok foto mas azka gak ada di susunan organisasi kak?” “azka gak ikut keorganisasian, dia Cuma atlet, waktu itu yang bawa dia latihan mas hadi pelatih tim futsal, jadi azka ini anak didiknya mas hadi di ssb” ujar kak aida menjelaskan, “terus ini siapa?” tanyaku sambil menunjuk foto seorang gadis yang di beberapa foto berdiri di samping mas azka. “itu linda, anak ekonomi semester tiga” kata kak aida. “pacarnya mas azka ya kak?” tanyaku lagi. “bukan, waktu itu dia masih maba dan azka juga masih baru di tim utama, linda itu adik kelasnya rifki, kebetulan pas ada kompetisi linda ikut dan kebetulan juga motor yang sendirian Cuma azka, jadi dia bareng azka mulu, tapi kayaknya linda suka sama azka, sejak azka dekat sama ve linda jarang ikut kalau ada turnamen” ujar kak aida panjang lebar. “kalau kak ve sama mas azka itu pacaran apa gak kak?” “wah kalau itu sih aku juga kurang tahu, yang jelas mereka baru dekat beberapa bulan belakangan ini saja, tanya aja langsung ke orangnya” “hehehe, gak berani kak”.
Kak aida melanjutkan merapikan dokumen-dokumen yang ada di ruangan sebelah dan aku masih melihat-lihat foto yang ada di album, ada banyak foto mas azka memegang piala, dan aku juga jadi tahu kalau teknik dua kali juara futsal dalam peringatan dies natalis kampus, dan dua-duanya kaptennya mas azka, mas azka keren kalau lagi pakai jersey, dia seorang kiper ternyata, aku jadi pengen lihat kalau pas lagi tanding, akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada kak aida, “kak kalau latihannya kapan?” “tadi malam, sama besok malam, seminggu dua kali, jam 7 sampe jam 10, kadang juga sampai jam 11” “pengen nonton kak, boleh nggak?” “boleh saja, bilang saja sama azka biar sekalian bareng biasanya dia sendirian, kalau aku biasanya bareng mas ivan” “yaudah ntar tak bilang dulu ke mas azka”, mas ivan itu pacarnya kak aida dia juga lulusan kampus ini dan rumornya mereka akan segera menikah, mereka kenal juga lewat ukm futsal.
***
Malam ini aku akan menonton mas azka latihan futsal, sehabis isya’ aku sudah siap-siap, “mau kemana mbak?” tanya fira. “kampus liat latihan futsal” jawabku. Ponselku bergetar, sms dari mas azka, dia sudah di gerbang, “berangkat dulu fir” “iya”. mas azka mengenakan sandal jepit memakai celana pendek berwarna hitam ada nomor 20 di paha bagian kirinya, dia memakai jaket yang bertuliskan UKM FUTSAL dan nama kampus kami di bawahnya, di dada bagian kiri ada huruf AA, itu jaket kebesaran tim futsal kampus kami, jaket yang hanya diberikan pada tim utama dan bagian official, dia memakai tas selempang berwarna hitam yang sudah pasti isinya perlengkapan lainnya.
Lima menit kami sudah sampai di lapangan, beberapa pemain lainnya sudah ada di sana, ada beberapa mahasiswa baru juga, beberapa pasang mata memperhatikan kami, motor masih belum mati sudah ada yang nyeletuk menggoda kami “ehm, akhirnya azka bonceng cewek lagi” ujar seorang pemain yang juga memakai jaket yang sama dengan yang dipakai mas azka tapi huruf di dadanya WP, yang belakangan aku tahu dari kak aida kalau namanya adalah mas wahyu, anak ekonomi semester 7, dan akhirnya aku tahu juga kalau huruf itu adalah inisial yang kepanjangannya adalah wahyu putri, putri nama pacar mas wahyu, anak jurusan hukum, beberapa pemain datang bersama pacarnya, mas rifki datang bersama kak ayu, mas niko dengan kak siska, dan mas azka hanya menanggapi semua godaan dari teman-temannya itu dengan tersenyum. “habis kakanya sekarang adiknya” ujar salah seorang pemain lainnya, “sama kakaknya masih kok” jawab mas azka menggoda sambil mengencangkan tali sepatunya, konon katanya mas randi yang barusan menggojlok mas azka itu pernah naksir dan dekat dengan kak ve dan dia kurang suka sama mas azka sejak kak ve dekat dengannya. “jangan gitu ran, kalau cemburu jangan dipendam entar jadi gondok loh” sahut mas ivan, sontak semua yang ada disitu tertawa.
Aku pikir Cuma aku dan kak aida ceweknya disini ternyata tidak, disini rame, seru, mas-masnya juga , asik, mas azka juga tidak se-formal dan se-seram yang aku bayangkan dia juga berbalas candaan dengan teman-temannya, dan ternyata pacar-pacar para pemain ini mereka juluki ibu-ibu pkk ukm futsal, hahaha, lucu menurutku, setelah setengah jam pemanasan mereka mulai latihan, tidak langsung berlatih tanding, mereka melakukan latihan dasar, dari passing, marking, shooting dan latihan strategi juga, baru setelah itu mereka berlatih tanding, mereka masih bercanda dan saling ejek-ejekan saat pemanasan, tapi saat latih tanding mereka semua serius, mas azka mengomando rekan-rekannya dengan cermat, kadang dia ikut maju ke depan untuk membantu temannya atau untuk memotong bola dan kata mas ivan itu yagn disukai pelatihnya, dia bisa membaca permainan dan berani keluar dari sarangnya. Aku sih kurang mengerti betul tentang peraturannya tapi aku tahu mana pemain yang bagus dan tidak, mas wahyu, mencetak banyak gol, mas roni pemain asal papua tendangannya keras dan sebagai pemain bertahan fisiknya kuat, dan mas azka belum kebobolan. Kata kak aida pemain inti tim ini sekarang mas wahyu, mas yani, mas roni, mas eryan sama mas azka. Mas wahyu sama mas roni anak ekonomi, tiga lainnya anak teknik, jadi wajar kalau teknik saat ini sering juara dan seringnya final lawan ekonomi, sebelumnya katanya ukm ini didominasi anak ekonomi, Cuma mas azka sama mas yani waktu itu yang anak teknik.
Selesai latihan biasanya anak-anak futsal langsung ke warung langganan mereka, “mau ikut atau langsung ke kos?” mas azka menanyakan. “ikut mas” jawabku. Cewek-ceweknya juga banyak yang ikut, hampir semua pemain senior ikut, sebagian anak semester tiga ada yang ikut yang lainnya entah kemana. Warung mak budek begitu mereka memanggilnya, warungnya kecil, pemilikya sepasang suami istri paruh baya, lokasinya berada di samping tembel ban di pinggir jalan raya, tak jauh dari kampus, sebagian dari kamia ada yang makan nasi plus mie instan ada yang makan nasi ayam, ada yang Cuma memesan es teh atau kopi, semuanya bayar sendiri-sendiri, kami tertawa bersama setelah saling sindir atau salah satu dari kami menceritakan kejadian lucu yang pernah dialami, disini aku melihat mas azka yang lain dari biasanya, benar-benar berbeda, dia menjadi seseorang yang seru yang lucu dan iseng. Gak ada yang bisa memojokkan dia karna dia selalu punya jawaban jitu untuk menyudutkan orang yang menggojloknya.
Jam setengah dua belas aku sampai di kos dan langsung tidur.
****
Belakangan ini iman jadi sering ke kos, dan sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu mas azka, malam ini iman tiba tiba sms, dia bilang kalau dia sudah ada di depan kos, dia ngajak aku pergi makan. Setelah berganti pakaian aku langsung keluar menemuinya dan kami langsung keluar, aku lagi malas keluar sebenarnya, akhirnya setelah sedikit berdebat iman mau mengalah dan memutuskan untuk membeli makanan dan kami bungkus, makannya di kos saja. Setelah selesai kami langsung pulang ke kos, kami duduk di kursi di halaman kos, aku masuk untuk mengambil piring dan sendok ke dalam sekalian manggil fira untuk makan bareng, sementara iman menunggu di luar.
Aku keluar bersama fira yang langsung basa-basi untuk menyapa iman, kami langsung makan sambil ngobrol santai, “mbak, airnya mana?” tiba-tiba fira nyeletuk. Ternyata aku lupa tidak membawa air minum buat kami. “yasudah aku saja yang ambil ke dalam mbak” fira menawarkan. “gak usah fir biar aku yang ambil” tolakku. Buru-buru aku masuk ke dapur, baru membuka lemari es aku baru ingat sepertinya tadi ponselku getar saat kita keluar membeli makan, ku rogoh kantongku ternyata tidak ada disana, aku masuk sebentar untuk mengecek ke kamar ternyata tidak ada disana juga dan seingatku memang aku tidak ke kamar sama sekali setibanya dari luar tadi, aku keluar dengan membawa air buat kami bertiga dan ternyata ponselku ada di meja luar tempat kami makan. Aku biarkan saja tetap tergeletak disana, tidak enak sama iman yang mau ngecek ponsel, entar malah dia curiga macam-macam dan merusak suasana malam ini.
Setelah kurang lebih dua jam bersama akhirnya iman pamit buat pulang, sedangkan fira sudah satu jam lalu dia masuk, katanya masih ada tugas kuliah dan tidak mau mengganggu orang pacaran alasannya.
****
Sudah seminggu lebih mas azka tidak pernah nongol, padahal biasanya sesibuk apapun dia selalu punya waktu buat kami, seolah dia tidak pernah punya kata sibuk, dua hari yang lalu aku hanya menyapanya saat kami ketemu di pintu gerbang kampus saat dia bersama teman-temannya nongkrong di pos satpam, memang biasanya dia disana, satpam, tukang bakso, penjaga parkir adalah teman-temannya, enak katanya gak usah bayar parkir dan gak usah pake di cek STNK kalau keluar-masuk kampus, hahaha, memang dia unik, tidak seperti kebanyakan mahasiswa lainnya yang belagu sombong dan memandang kecil orang-orang dengan profesi seperti mereka.
Masalah di kepalaku sudah benar-benar membuncah, pernikahan ridwan sudah kurang dari seminggu, dan lagi-lagi dia tahu nomerku, yang ternyata aira sepupuku yang memberi tahunya, aira minta maaf sampai mau nangis waktu aku menegurnya, tapi memang dia tidak tahu apa-apa tentang masalah ini, jadi wajar saja dia melakukan itu, aira masih terlalu polos untuk mengerti ini semua. Aku sudah tidak kuat untuk membawa beban ini sendiri, aku sudah capek nangis tiap malam, aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, sempat terlintas untuk menceritakan maslah ini pada iman, namun dia sudah tak senetral dulu saat kami belum pacaran jika aku bercerita masalah ridawan, dia akan menjadi seperti kayu kering dan nama ridwan adalah api, amarahnya cepat sekali tersulut saat mendengar nama ridwan.
Tanpa aku cerita pun fira sudah tahu apa yang menjadi masalahku, namun dia takkan bisa memberi solusi dan aku hanya akan memberinya beban pikiran, dan sepertinya mas azka satu-satunya orang yang bisa aku bagi, bukankah dia selama ini selalu bisa membuatku melupakan masalah ini, meski pada akhirnya nanti dia tak menawarkan solusi setidaknya aku tahu dia bisa menjadi pendengar yang baik, mungkin aku bisa sedikit bisa bernafas jika bisa menumpahkan ini pada seseorang meski sedikit saja.
Tapi aku juga takut dia sedang sibuk, buktinya belakangan ini dia jarang nongol di kos. “fir, pernah ketemu mas azka nggak? Atau dia sms kamu nggak?” tanyaku pada fira. “ketemu kok, ini barusan aku dari kampus bareng dia, makan dulu di warung depan kampus, kemarin malam juga kesini sma mas darma pas kamu keluar sama iman, tapi Cuma sebentar” jawab fira. “aku kok gak pernah ketemu ya fir? Dia juga lama gak sms aku” tanyaku penasaran. “eh mbak, waktu itu yang kita makan bareng di depan sama iman juga pas kamu masuk ngambil air ada sms terus yang buka iman kayaknya dia juga balas sms itu sih” ujar fira mengingatkan. “gak ada kok fir, perasaan waktu keluar juga ada sms soalnya pas di jalan ponsel mbak getar tapi aku cek abis iman pulang gak ada, soalnya yang mau cek di depan dia gak enak, kamu tahu sendiri dia gimana kan” jawabku sambil megecek pesan masuk di ponsel. “jangan-jangan yang sms waktu itu mas azka mbak” sahut fira tiba-tiba. “emang waktu itu hari apa fir?” tanyaku. “rabu kalau tidak salah mbak” jawab fira. “rabu ya” ujarku sambil mengingat-ingat.
Aku baru ingat ternyata malam itu aku janjian sama mas azka buat ikut ke kampus nonton latihan futsal, jadi pasti mas azka sms waktu itu, dan kalau benar apa yang dikatakan fira maka iman yang baca sms mas azka dan membalasnya kemudian menghapus pesan masuk dan terkirimnya. Aku kesal setengah mati sama iman kalau itu benar-benar terjadi, aku juga menyalahkan diriku kenapa aku sampai lupa kalau udah janjian sama mas azka, mas azka pasti marah besar soalnya dia pernah bilang kalau dia paling gak suka dibohongi, sekali dibohongi maka dia tidak akan pernah percaya lagi pad orang itu. Aku sih tidak bohong tapi aku tetap salah, seharusnya aku bilang kalau aku tidak bisa ke kampus malam itu, belum lagi aku tidak tahu apa isi sms dari iman ke dia, aku benar-benar tidak enak, tapi kenapa pas waktu aku ketemu di gerbang kampus dia biasa saja seolah tidak ada apa-apa ya, ah dia mana peduli malah mungkin dia senang gak usah repot-repot sama aku.
“Mas azka maafin manda ya” ucapku pelan, meski aku tahu betul mas azka tidak akan mendengarnya.
****
Hari ini kepalaku terasa pening, badanku dingin, namun aku tetap memutuskan untuk berangkat ke kampus soalnya aku ada presentasi hari ini, namun sesampainya di kampus ternyata adi yang semalam meminjam flaskdiskku datang padaku “maaf nda flashdisknya kena virus” ujarnya datar seolah tidak ada yang terjadi, “kena virus?” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku, aku panik soalnya file presentasiku ada disana, aku langsung meminjam laptop yuli untuk memastikan apakah file itu masih selamat atau tidak, nah aku jadi lemas seketika, selain kondisi badan memang juga tidak fit, amarahku benar-benar membuncah, namun aku hanya bisa menangis, aku benar-benar lemas, yuni membujukku untuk pulang ke kos saja nanti biar dia yang ijinin ke dosen kalau aku lagi sakit. “yaudah ayo aku anterin nda” ujar rindra menawarkan, rindra memang suka padaku hampir semua teman sekelas tahu itu, akupun juga tahu. “iya ndra buruan anterin gih” sahut yuli menanggapi tawaran rindra. “biar aku yang nganterin” ujar suara yang tiba-tiba muncul dari belakang yuli, aku kenal suara itu, aku menoleh untuk memastikan dan benar itu suara mas azka, “mas azka” kataku spontan diiringi tatapan sinis dari rindra dan yuni.
Mas azka menerobos di tengah kerumunan teman-temanku, setelah tepat di depanku dia mengelus kepalaku kemudian mengucek rambutku yang terbalut jilbab. “Ayo balik” ujarnya. “iya mas” jawabku seperti orang yang terhipnotis. “bisa jalan sendiri?” tanya mas azka. “bisa kok mas” jawabku. Aku berdiri dibantu mas azka yang memegang tanganku, dia menggandengku sampai di depan fakultas. “tunggu sini aja” katanya sesampainya di depan fakultas sambil membuka ponselnya dan mulai menelfon, sesaat kemudian mas darma datang membawa motor mas azka. “ntar kamu pulang sama anak-anak saja ya ma” kata mas azka ke mas darma. “iya gampang ka” jawab mas darma. “yaudah aku duluan” pamit mas azka. “hati-hati” mas darma menjawab.
“kamu sudah makan?” tanya mas azka sambil mengendarai motor. “belum mas, lagi gak pengen makan, mual” jawabku. “yaudah makan dulu abis itu baru aku antar pulang” kali ini suara mas azka terdengar serius dan aku juga tak berusaha menyanggahnya. Kami berhenti di sebuah warung, mas azka turun sebentar sedangkan aku tetap menunggu di atas motor, beberapa menit mas azka sudah kembali dan kami langsung melanjutkan perjalanan, “makan di kontrakan aja, nanti abis makan aku anterin” kata mas azka. “iya mas” aku hanya bisa nurut.
Sesampainya di kontrakan mas azka langsung membawaku ke kamarnya. “tunggu disini dulu aku cuci piring dulu tadi anak-anak abis makan belum sempat nyuci buru-buru ke kampus soalnya katanya ada kuis” dan tanpa menunggu jawaban dariku dia langsung keluar. Dia kembali dengan sebuah mangkok, piring dan sendok. Dia mengambil nasi dari magic jar yang ada di kamarnya, dia dan teman-temannya memang masak sendiri, kadang Cuma beli lauknya saja di warung, biar lebih hemat dan makan bareng-bareng juga lebih nikmat begitu katanya. Kemudian dia menuangkan sup yang tadi dia beli ke mangkok, “nih makan dulu bair gak lemes” ujarnya sambil menyodorkan sepiring nasi dan semangkok sup.
Aku makan sedikit dan mulai terasa mual, baru beberapa sendok akhirnya aku bilang “sudah mas”. “kok Cuma dikit?” “iya mas gak enak kayak pengen muntah” “wah kayaknya kamu mag, makan lagi jangan dibiarin nanti tambah parah” “gak enak mas” “namanya orang sakit ya gak enak makan, yaudah ayo tak suapin” dan tanpa persetujuan dariku mas azka mulai mengangkat piring dan menyendok nasi yang tadi sudah ku campur dengan sayur dan kuah sup kemudian mulai yuapiku, aku makan beberapa sendok lagi. “sudah mas” akhirnya kataku. “beneran udah?” “iya mas udah kenyang kok” “yaudah sekarang minum obat”. dia membuka lemarinya dan mengambil obat mag diantara obat-obatan yang tersimpan di lacinya. “nih minum dulu abis itu istirahat” ujarnya. Setelah minum obat aku bersandar di tembok di atas kasur busa berukuran 110x200cm, kasur yang hanya cukup untuk ditempati satu orang, kamar mas azka kecil hanya 2,5×3,5m, di dalamnya ada lemari kecil, komputer, dan kipas angin. poster che guevara dan iwan fals serta satu kain bendera barcelona yang cukup besar di dindingnya.
Ponselku bergetar, aku kaget, aku ketiduran di kamar mas azka, terakhir aku ingat aku masih duduk bersandar di tempok dan mas azka sibuk dengan komputernya, tapi sekarang aku tertidur di kasur dan kain sarung mas azka menutupi kaki sampai separuh badanku sedangkan mas azka masih berada di depan komputernya. “sudah bangun?” tanya mass azka sedikit menoleh kemudian kembali menatap layar monitor. “iya mas ketiduran terus ponselku getar jadi kebangun deh” jawabku. “tadi tak selimutin pakai sarung soalnya kayaknya kedinginan kamu, gimana udah enakan?” “iya mas mendingan” “emang sms dari siapa? Fira?” “bukan mas” “dari pacarnya?” “bukan mas” “terus?” “dari ridwan mantanku” jawabku akhirnya setelah agak lama. “sebenarnya kemarin-kemarin mau cerita ke sampean tapi kayaknya sampean sibuk” lanjutku. “hahaha, sibuk apaan, makanya punya pacar jangan galak-galak” jawab mas azka. “galak gimana mas?” tanyaku penasaran. Akhirnya mas azka menjelaskan kalau malam itu dia sms nanyain jadi ikut ke futsal apa nggak dan ternyata yang balas iman, dia minta mas azka gak usah terlalu perhatian sama aku dan jangan mengganggu hubungan kami. Aku jadi mengerti kenapa sikap mas azka jadi berubah. “maaf ya mas” akhirnya aku bisa menyampaikan maafku yang malam itu tak ia dengar. “gak apa-apa kok, santai aja” jawabnya, mas azka memang tidak suka membesar-besarkan masalah, seolah-olah dia tidak pernah punya masalah, hidupnya santai, dan dia merdeka, dia melakukan apa saja yang ingin dia lakukan, ingin rasanya aku seperti dia, gak ada beban, gak punya masalah, pokoknya semuanya gampang dan santai.
“terus gimana masalah siapa tadi mantanmu itu? Ridwan?” tanyanya. “iya mas ridwan” jawabku. Akhirnya aku menceritakan tentang hubunganku dengan ridwan, tentang kami yang pacaran meski dia sudah punya tunangan, tentang kami yang masih sering ketemu sampai akhir-akhir ini, dan tentang dia yang sudah menikah dan berjanji padaku bahwa dia akan tetap mencintaiku, tentang dia yang akan menceraikan istrinya nanti jika sudah menikah dan tetap memilihku, tetang dia yang masih sering menelfon dan sms aku, tentang semuanya, aku tumpahkan semua kegelisahan, semua beban yang selama ini aku simpan sendiri, tentang alasan atas berlinangnya airmataku setiap malam, dan saat itupun aku menceritakannya dengan airmata yang berlinang.
Mas azka mendengarkanku tanpa sepatah katapun, aku menggenggam tangannya sebagai pertahanan sebagai penguat dan dia membiarkanku melakukan itu, sampai akhirnya aku selesai menuntaskan cerita itu, kemudian dia menarik tangannya yang sedari tadi ku genggam, menatapku penuh empati, kemudian memegang kepalaku dan mengusapnya “sabar ya” ucapnya. “Tuhan punya banyak cara mengajarkan kita, menguji kita, jangan sampai kamu hanya dapat sakitnya saja tanpa mendapat pelajaran dan hikmah di dalamnya” lanjutnya. Aku hanya terdiam. “ikhlaskan dia, sangat sakiti dirimu dan calon istrinya, coba juga melihat dari sisi tunangannya dia, dia pasti lebih sakit, menikah dengan orang yang tidak mencintainya dan berjanji akan menceraikannya, dan kamu menjadi alasan dari semua itu, tentu kamu tidak mau kan” “aku sudah berusaha mas, tapi dia masih terus menghubungiku, itu yang membuat aku susah menghindar dan melupakan dia” “yasudah mulai besok pakai lagi nomer lama kamu, terus kalau dia nelfon dan hubungin aku terus gimana mas?” “gampang” jawabnya singkat mengakhiri, kadang aku juga kesal dengan jawaban itu, semuanya gampang, apa sih yang tidak gampang buat dia, tapi aku tidak bisa protes karena dia memang selalu punya solusi dan keajaiban.
****
Keesokan harinya sepulang kuliah mas azka menjemputku ke kampus dan membawaku ke kontrakannya, kontrakannya sepi hanya ada mas azka dan mas darma yang lainnya pulang katanya, aku juga biasanya pulang setiap sabtu, karena minggu libur dan senin pagi aku berangkat dari rumah, besok adalah hari pernikahan ridwan. “fira pulang?” tanya mas azka. “iya dia pulang dari kemarin sore mas soalnya sabtu dia gak ada kuliah” jawabku. “mana hp kamu?” “buat apa mas?” “sudah mana”, aku menyerahkan ponselku. “nomernya udah pakai yang lama lagi?” “iya mas” “mana nomernya ridwan?” aku kaget dan tidak mengerti apa yang akan dia lakukan. “ada disitu mas” jawabku, ku pikir dia akan menghapus nomer itu agar aku tidak pernah berhubungan dengan ridwan lagi, ternyata aku salah, “yaudah nih telfon dia, selesaikan masalahnya sekalian pamitan” “nggak mas” “ah cemen, lari mulu, masalah itu hadapi, kalau gak mana bisa selesai” yasudah aku yang telfon, boleh?” “mau bilang apa mas?” “terserah aku dong kan aku yang telfon, kamu tak suruh nelfon gak mau” “yaudah telfon aja mas” jawabku akhirnya, aku hanya penasaran apa yang akan dia katakan secara dia tidak pernah tahu dan kenal ridwan
Dia mulai menelfon, sepertinya belum diangkat, sampai akhirnya. “ini ridwan ya? Mas saya azka pacarnya manda sekarang jadi mas tolong jangan ganngu pacar saya lagi jangan hubungi dia lagi, semoga mas bahagia dengan pasangan mas, ini manda mau ngomong” kemudian mas azka menyerahkan ponsel ke tanganku, aku yang dari deg degan dan sedih sontak kaget mendengar apa yang dikatakan mas azka, dan saat aku menerima telfon ku dengar di seberang sana suara azka serak seperti menangis memohon kepadaku dan menanyakan tentang kebenaran yang dikatakan lelaki yang menelfonnya barusan “iya mas tolong jangan ganggu aku lagi” kataku akhirnya setelah cukup lama lidahku kelu, buru-buru aku menutup telfon dan airmataku kembali tumpah, aku menunduk menelungkupkan muka membenamkannya ke bantal, airmataku sudah tak tertahan lagi, mas azka menusap kepalaku kemudian mengangkat kepalaku, dia mengusap airmataku dan menatapku dalam, “sabar ya, jangan sedih” ujarnya penuh perasaan, kemudian dia menaruh kepalaku di pahanya, aku masih tetap menangis dan tangannya masih tetap mengusap kepalaku.
Aku terbangun dan baru sadar kalau aku terlelap di paha mas azka, tangannya masih di kepalaku, sepertinya mas azka juga tidur, ia tidur sambil duduk dengan menyandar ke tembok, sepertinya dia tidak mau memindahkan kakinya karena takut aku terbangun, aku bangun merapikan jilbabku, ku perhatikan wajah mas azka saat tidur, kemudian aku menepuk tangannya berusaha membangunkannya, “mas anterin ke kos” ujarku setelah dia bangun. “arghh, tunggu bentar” jawabnya sambil berusaha meluruskan kakinya yang sedari tadi ku jadikan bantal, sepertinya kakinya kesemutan. Setelah beberapa saat dia ke kamar mandi cuci muka, kemudian aku juga cuci muka, karena aku tahu wajahku pasti berantakan, tak Cuma baru bangun tidur namun juga abis nangis, setelah itu mas azka mengantarkanku ke kos.
****
Entah kenapa aku jadi memikirkan kata-kata mas azka tadi, kata-kata yang bilang dia pacarku, mungkin itu cuma biar ridwan tidak menghubungi ku lagi, dan bukan berarti dia suka atau ingin menjadi pacarku. Lagian dia kan pacaran sama kak ve, mungkin sih.
Mas azka itu spesial, mas azka itu unik, begitu menurutku, bukan secara fisik, karena banyak yang lebih tampan dari dia, dia memang cerdas tapi bukan itu yang membuatnya spesial, melainkan sudut pandang dan cara berpikirnya yang unik adalah faktor pembeda dia dengan orang-orang yang selama ini pernah aku temui, dia pasti punya masalah, itu pasti meski aku tidak tahu, tapi dia tidak pernah terlihat bermasalah, dia selalu punya caranya sendiri untuk mengatasi masalah-masalahnya, dia merdeka, dia bertindak sesuai apa yang dia inginkan, dan dia hampir selalu benar. Dia selalu bilang, masa depan dan hari esok itu misteri, jadi tidak perlu berjudi dengan hidup, hari ini kita berbahagia saja jangan mengorbankannya untuk kebahagiaan hari esok yang lebih besar, karena itu belum pasti. Dia mengibaratkan itu dengan kita berjudi, andai kita punya uang sedikit yang hanya cukup untuk dibelikan makan ya belikan makan saja jangan kau pakai taruhan yang mungkin kamu bisa dapat uang lebih banyak dan makan lebih enak, karena itu belum pasti. Begitu katanya. Dan aku makin mengaguminya, aku akui itu tanpa sedikit keraguan.
Dan sampai saat ini aku masih penasaran tentang hubungan mas azka dengan kak ve, aku pikir aku harus segera menanyakannya, siang itu, di hari minggu, aku dan hanya dua orang mbak kos yang tidak pulang dan di kos mas azka juga tinggal dia dan mas darma, seperti kemarin karena kata mas azka biasanya teman-temannya baru datang minggu malam, atau paling cepat sore. Aku memberanikan diri sms mas azka, ‘mas, udah makan belum? Sibuk gak? Bisa minta antar beli makan gak?’ selesai mengetiknya aku langsung mengirimnya. Tak lama kemudian ponselku pun bergetar, ‘tunggu di gerbang 5 menit lagi’ balasnya singkat. Dan aku mulai bersiap-siap, aku tidak mau mas azka menunggu terlalu lama di depan gerbang apalagi siang ini panas banget, kasian.
Aku sudah berada di depan gerbang tapi mas azka belum datang, aku menoleh ke kiri, arah dimana dia semestinya datang kalau dia dari kosnya, dan benar aku sudah bisa melihatnya, aku kenal gayanya, aku kenal motornya, aku sudah hampir hafal dan kenal betul dengan sosok satu itu. Dia berhenti tepat di depanku dan aku langsung naik di belakangnya, “sudah?” tanyanya. “sudah mas” jawabku. “yasudah turun kalau sudah” ujarnya lagi. “hahaahaa, ayo ah mas” kataku sambil menepuk pundaknya. Dia memang sering iseng seperti itu.
Kami sudah sampai di warung langganan, “kamu makan apa?” tanya mas azka. “terserah mas” jawabku. “pak, terserah dua bungkus katanya” teriaknya pada pak kirman. Aku langsung memukul lengannya. “loh katanya terserah” protesnya. “disini gak jualan terserah mbak” kata pak kirman sambil tersenyum. “yang biasa saja pak” kataku akhirnya. Aku mengajak mas azka untuk makan di kosnya saja, tujuanku tak lain agar aku bisa punya kesempatan untuk bertanya tentang dia dan kak ve, hal yang selama ini bikin aku penasaran.
Aku sempat bertanya pada teman-teman kak ve, teman-teman mas azka, anak-anak futsal tapi semuanya tidak ada yang tahu pasti hubungan mereka, ada yang bilang pacaran, ada yang bilang Cuma teman, gak ada yang jelas dan itu tak membuatku puas.
“mas, kabar kak ve gimana?” tanyaku memancing sambil kita makan. “lah kan kamu yang adiknya masa nanya ke aku” jawabnya. Kalau sudah begini sepertinya bakal sedikit sulit, dia tidak akan menjawab dengan serius dan makin lama pasti makin ngeselin. “emang gak pernah smsan ato telfon mas?” “jarang” “loh kok?” “ya jarang saja, sudah sama-sama sibuk, ve sibuk sama kerjaannya paling dan aku juga sibuk” “sibuk apaan la wong sampean keluyuran aja tiap hari kok” “sibuk jadi babysitter kamu, hahahaha”. Tuh kan aku kena lagi. “memang sampean sama kak ve pacaran apa gak sih mas?” “kenapa nanya sama aku? Ve bilangnya gimana?” “gak pernah bilang apa-apa” “kalau gitu aku juga gak mau bilang apa-apa, hehehe” “ayo dong mas” “serius nih nanyanya?” “iya serius” “tunggu bentar”. Kemudian dia masuk ke kamarnya, aku penasaran dia mau apa. “mau ngapain mas?” “ngambil dasi sama pantofel, katanya serius” “ah, ayo lah mas” “hahahahaha” “ayo dong cerita mas” “cerita apaan?” “kalian pacaran nggak sih?” “penasaran ya?” “iya mas” “kalau gitu jangan mati dulu, nanti gentayangan, hahaha” “hemmm”. Aku mulai kesal. “aku juga penasaran” ujarnya tiba-tiba. “pernah jadian nggak?” “nggak pernah” “pernah nembak?” “takut mati” “ihhh” “hehehe, gak pernah” “terus selama ini?” “ya Cuma temenan aja, jalan bareng, ke futsal bareng, makan bareng, gitu saja kok”. Jadi intinya sekarang aku tahu mereka tidak pacaran.
“kenapa kak ve manggil sampean ‘yam’?” “itu pas di warung pak kirman, kita mau makan terus aku nanya, kamu apa ve?, dia jawabnya “aku ayam” terus aku ledekin, ohh jadi kamu ayam. Dan dia sadar, sejak saat itu kita saling manggil ayam”. Aku Cuma ketawa. Kemudian mas azka melanjutkan “gara-gara itu waktu kita tanding di surabaya, anak-anak pada ngira kita pacaran soalnya ve bilang, aku tunggu sini yam, nah kedengerannya sama mereka, aku tunggu sini yang, kan mirip tuh jadi sekilas dikira bilang yang, hahaahaha”. “hahahaha” aku juga ketawa sambil manggut-manggut. “kalian kan beda angkatan, beda fakultas juga kenal dimana?” “itu gak sengaja, waktu itu aku sama teman-teman lagi nongkrong di parkiran terus ve sama mbak aida lewat, aku basa-basi nyapa, ‘mau rapat ya mbak?’ ‘iya’ ‘konsumsinya ya’. Abis itu aku balik ke kos, eh pas arman pulang ngasih bungkusan, katanya dari ve”.
“emang sampean gak pernah punya perasaan sama kak ve mas?” “perasaan?” “ya, suka gitu” “siapa yang gak suka sama ve, semua cowok kalau ditanya suka pasti bilang suka, dia cantik, pinter juga. Aku suka, makanya kita temenan” “tapi kayaknya kak ve suka sama sampean, lebih dari teman”. Mas azka terdiam, “tahu dari mana memangnya?” sahutnya tiba-tiba. “feeling aja, aku kan juga cewek, aku juga saudaranya, setidaknya dari cara dia lihat sampean saja sudah beda”. Ada rasa kesal juga sebenarnya kenapa cowok yang satu ini tidak peka hal seperti itu. “hemm, gitu ya” jawabnya pelan sambil memainkan ponselnya. “coba baca ini” ujarnya sambil menyodorka ponselnya. ‘yam, selama ini apa kamu tidak pernah punya perasaan lebih ke aku?’ begitu isi pesan dari kak ve, ‘kenapa tiba-tiba nanya seperti itu ve?’ ‘gak apa-apa penasaran aja, soalnya kebanyakan cowok yang jalan sama aku selalu punya perasaan lebih’, ‘kalaupun aku ada perasaan lebih itu sudah terlambat untuk membicarakannya sekarang, aku sudah terlalu nyaman bersama kamu meski hanya sebagai teman’, ‘andai kamu bilang mungkin gak pernah ada erni dalam cerita hidup kamu’. Dari semua itu aku paham kalau dua orang ini saling mencintai namun tak pernah mengnugkapkannya. “erni siapa mas?” “mantanku, waktu sama ve aku pacaran sama dia sampai akhirnya dia cemburu sama ve dan kita putus” “kak erni kakak tingkatku?” “iya”. mas azka terliha menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, “pernah waktu itu kita mau pulang setelah makan tiba-tiba ve bilang, ‘aku boleh pegangan gak ya?’, ‘kenapa?’, ada mas yayan liatin kita, biar cemburu’. Terus setelah sampai di kos ve minta aku menggenggam tangannya terus nanya apa yang ku rasa, aku Cuma bisa bilang ‘biasa saja kok, kenapa?’, ‘kata mas angga kalau pegang tanganku rasanya hangat dan nyaman yam, mungkin karena dia suka sama aku ya’.
Dalam pikiranku kenapa cowok ini begitu bodohnya sampai tidak peka dan tidak menangkap kode-kode yang berusaha disampaikan kak ve kepadanya, apa karena dia terlalu cuek atau dia juga menyadari semua itu tapi dia tetap berani menyatakan perasaannya. “aku tahu ve juga suka sama aku” suaranya terdengar agak berat kali ini. “tapi aku cukup tahu diri, kami tidak pantas bersama, dengan menjadi teman dekatnya saja aku sudah cukup senang” katanya melanjutkan. “kenapa bisa begitu mas?” tanyaku. “aku mengukur diriku, saat itu ve sudah mau lulus kemudian bekerja, usianya juga dewasa, tentu akan ada desakan untuk segera menikah, sedangkan aku masih beberapa tahun lagi selesai kuliahnya, dan ada hal-hal lain juga yang menjadi pertimbanganku”. Kali ini aku membenarkan analisanya, karena aku tahu sendiri mama sudah mulai menanyakan tentang calon kak ve. “sejak saat itu aku berhenti memikirkan masa depan karena itu hanya membuatku takut, aku menjadi takut terhadap hal yang belum tentu terjadi dan itu merusak hari yang aku jalani yang seharusnya aku nikmati”. Dan kami pun hanya bisa diam, seketika ruangan ini menjadi sunyi, hanya suara angin dan putaran dari kipas saja yang terdengar jelas.
Dan sekarang semuanya sudah jelas, semua rasa penasaranku pun juga sudah terjawab, entah aku harus sedih atau senang setelah aku mengetahuinya, aku mau kok mas azka jadi kakak iparku, aku rela kak ve jadi milik mas azka, mereka pasangan yang serasi, meski mas azka gak ganteng-ganteng banget tapi dia manis kok, dia baik, dia keren. Siapa ya pacar mas azka sekarang? Siapa ya yang nanti jadi istrinya?, muncul pertanyaan-pertanyaan baru tentang mas azka, orang satu ini memang selalu membuatku penasaran.
****
Aku dan mas azka semakin sering bersama, ke kampus, makan, latihan futsal, bahkan kadang aku ikutan nongkrong bareng teman-teman kosnya. Ada beberapa hal baru yang aku keteahui tentangnya, misalnya saat dia makan dia akan emakan lauk yang paling ia sukai terakhir, saat aku tanya kenapa dia melakukan itu, dia bilang kalau dia memakannya pertama takutnya dia tidak punya selera lagi untuk menghasbiskan makanannya, sama halnya saat belajar dia akan mulai dari pelajaran yang menurutnya sulit dan cenderung tidak dia sukai, dan hal lainnya adalah dia tidak peduli dengan urusan orang lain, dia perencana, semua dia rencanakan dan dia akan mulai murung kalau rencananya tidak berjalan sesuai dengan yang dia harapkan, meski menurutku itu sedikit bertolak belakang dengan dirinya yang enggan menatap masa depan.
Malam ini aku kembali menemaninya latihan futsal, mungkin lebih tepatnya bukan menemani karena aku yang meminta untuk ikut dengannya, dia selalu serius saat latihan, aku belum pernah melihatnya bertanding, dan itu jauh berbeda bila itu sudah berkaitan dengan kuliah, dia terlihat tidak tertarik dan enggan untuk pergi ke kampus, aku tidak tahu kenapa. Dia tipe orang yang memilih temannya, “semua orang boleh mengetuk pintuku, tapi aku yang mengijinkannya masuk” bahkan teman sekelasnya saja dia banyak yang tidak kenal, tak heran jika kebanyakan mereka bilang mas azka sombong, tapi mas azka tetaplah mas azka, dia tidak pernah peduli dengan kata orang lain, “itu hak mereka mau bilang apa, aku tidak peduli, aku tidak makan dari uang mereka, jadi kenapa harus mendengarkan mereka”, begitulah dalihnya.
Selesai latihan aku minta mas azka langsung mengantarku ke kos, jadi kami pulang duluan karena mas azka harus mengantarku kemudian baru menyusul teman-teman lainnya ke warung mak budek, jalanan dari kampus ke kosku lumayan gelap, belum ada rumah-rumah yang dijadikan kos di pinggiran jalannya, saat kami belok dari pertigaan di depan pintu gerbang kampus tiba-tiba ada motor yang membuntuti kami, aku mulai ketakutan, sekilas ku lihat mas azka melirik ke arah spion motor untuk melihat motor yang membuntuti kami, mas azka sama sekali tidak menambah kecepatan laju motornya, “tenang saja tidak ada yang mau sama motor tua kok” katanya, aku makin ketakutan, aku mencengkeram bagian pinggang ujung jaket mas azka, “gak usah takut” mas azka berusaha menenangkan. “memang siapa mas?” tanyaku mungkin saja mas azka kenal mereka. “gak tahu” jawabnya singkat. Orang ini aneh, apa mungkin dia benar-benar mati rasa sampai rasa takut saja tidak punya.
Akhirnya kami sampai di depan kosku, motor yang tadi membuntuti kami berhenti beberapa meter dari kami, aku kenal orang yang dibonceng motor tersebut, dia sering nongkrong di depan kampus bersama teman-temannya untuk menggoda mahasiswi yang lewat, waktu itu dia pernah menggodaku saat aku berjalan berdua dengan yuni, dia bukan mahasiswa, mungkin anak sekitar sini. Sementara yang menyetir motor adalah lelaki patuh baya, tangannya bertato, dan mukanya sedikit seram, tiba-tiba pria itu melambaikan tangannya, “sini dik” panggilnya. “saya mas?” teriak mas azka. “iya” jawabnya. “jangan mas, gak usah” ujarku pada mas azka sambil memegang lengannya, “gak apa-apa, tenang saja, kamu masuk saja sana” jawab mas azka. Aku menggeleng, setidaknya kalau terjadi apa-apa sama mas azka aku masih bisa teriak minta tolong, begitu batinku. “yasudah tunggu sebentar ya” kata ams azka seraya melangkah mendekati mereka. Mereka berbicara, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena jaraknya yang cukup jauh hingga suara mereka tidak bisa ditangkap gendang telingaku, sesekali mereka melihat ke arahku. Sepertinya mereka sudah selesai dan mas azka sudah mulai melangkah kembali ke arahku, aku mulai tenang.
Aku penasaran siapa dua orang itu dan apa yang mereka bicarakan dengan mas azka. Bersamaan dengan mas azka yang sudah tiba di dekatku, mereka mulai pamit dan mas azka Cuma melambaikan tangan kemudian mereka pergi. “siapa mas?” tanyaku penasaran. “orang sini” jawabnya ringan. “memang ada perlu apa?” lanjutku. “katanya dulu dia temannya pamanku pas sama-sama masih muda, jaman-jaman nakalnya dulu katanya, dia baru tahu kalau aku kuliah disini dari andi anak ekonomi yang juga dari daerahku, makanya dia nyari mahasiswa yang pake motor hoda c70 warna biru”. “motor antik gampang ketemunya ya mas” ujarku. “hahaha, motor cinta” jawabnya. “katanya kamu pernah digodain ya pas jalan berdua” lanjut mas azka. “iya mas waktu itu sama yuni, memang dia bilang apa?” jawabku. “nanya kamu siapa, aku bilang aja kamu pacarku, terus dia minta maaf katanya waktu itu sempat godain soalnya gak tahu” mas azka menjelaskan. “kok bilang gitu mas? Kita kan gak pacaran” tanyaku pelan karena aku sedikit kaget dengan jawaban mas azka tadi. “biar kamu gak digodain lagi” katanya singkat. “oh, kirain” “kirain apa?” “gak apa-apa mas” “kirain aku suka beneran sama kamu gitu?” “nggak kok mas” “kalau memang aku suka beneran kenapa?”. Deg, jantungku berdetak sangat cepat, aku benar-benar kaget mendengarnya. “lagian kamu juga suka kan sama aku, kamu juga tidak benar-benar sayang sama iman kan”. Kali ini aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Tapi kenapa tiba-tiba mas azka bilang begitu. “aku masuk dulu mas, sudah malam” ujarku kemudian berlalu meninggalkan mas azka yang sesaat kemudian ku dengar motornya juga bergerak menjauh.
****
Aku masih memikirkan kata-kata mas azka semalam, dia serius atau hanya bercanda, tapi dari nada bicaranya dia tidak sedang bercanda. Aku sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang aku rasa terhadap mas azka, entah ini hanya sekedar rasa kagum, atau aku memang punya rasa yang spesial sama dia seperti yang dia bilang. Aku tidak memungkiri kata-katanya tentang iman, aku akui itu benar adanya, karena saat itu aku pikir dengan menerima iman sebagai pacarku aku bisa lepas dari ridwan, meski kini terbukti itu salah tapi kehadiran iman saat itu sedikit membantuku untuk bangkit, namun aku juga harus mengakui bahwa sampai saat ini aku belum bisa benar-benar sayang pada iman. Dan mas azka, ada banyak hal yang aku kagumi dari dia, ada banyak hal yang aku sukai dalam dirinya, ada banyak hal yang dia ajarkan padaku, tapi aku juga belum berani menyebutnya cinta, mungkin juga aku memang tidak berani mencintainya atau aku hanya takut untuk mengakui, aku pantas takut, karena kak ve, karena iman juga.
Akhirnya aku memutuskan untuk menjaga jarak dengan mas azka, aku pikir itu adalah hal paling aman yang bisa aku lakukan, setidaknya ku tidak akan menyakiti siapapun, pada awalnya rencanaku berjalan lancar, aku ke kampus bareng yuni, makan di kos abreng fira, meski kadang juga sendirian, namun seiring waktu ada yang mengganjal, harus ku akui setiap ponselku bergetar aku harap itu dari mas azka, aku mulai merasa kehilangan, aku mulai mengenal rindu lagi, aku mulai merasa cemburu saat melihat mas azka bercanda dengan teman wanitanya, aku rindu senyumnya, aku rindu dia yang suka nyebelin, aku rindu saat dia menggodaku, aku rindu saat dia mengacak rambut, dan aku rindu keajaiban-keajaiban kecilnya yang selalu membuatku makin mengaguminya, mas azka sudah menjelma candu bagiku, aku mulai tidak bisa melewati hariku tanpa dia, aku mulai tersiksa tanpa kehadirannya.
Sudah hampir dua minggu aku tidak menghubunginya dan diapun juga begitu, dan aku mulai kesal sendiri, mulai kesal dengan sikap mas azka yang super cuek dan tidak peduli, ‘kamu kan cowok, ayo lah ambil inisiatif, buruan sms ajak aku keluar gitu, aku pasti mau kok’ batinku dengan nada kesal berbicara sambil memegang ponselku. Dan sepertinya itu percuma, akhirnya aku putuskan untuk sms dia duluan, aku mulai mengetik sms, sudah beberapa kali aku hapus, aku bingung harus bilang apa, akhirnya aku memutuskan untuk sekedar basa-basi menanyakan kabarnya. Belum selesai aku mengetik tiba-tiba ponselku bergetar, aku putuskan untuk melihat sms itu dulu sebelum aku mengirim sms ke mas azka, ‘gak ada yang sms, kayaknya gak ada yang kangen, 5 menit lagi tunggu depan gerbang’ begitulah isi pesan mas azka, aku hanya bisa menarik nafas panjang, entah kenapa orang yang satu ini selalu datang tepat waktu, malah aku sempat berfikir dia bisa membaca pikiran orang, mungkin juga melihat masa depan.
Aku tidak mau ambil pusing soal semua itu, aku bergegas berganti pakaian dan menunggu mas azka. kami jalan-jalan memutari kota dengan motor cintamas azka, membeli cemilan dan memakannya di trotoar sambil memperhatikan lalu lalng kendaraan dan orang-orang yang lewat, aku senang, itu hal yang sederhana yang bisa dilakukan siapa saja, itu hal yang biasa, tapi di sampingku ada seseorang yang membuat itu semua menjadi tak sederhana, menjadi mahal dan tak terbeli.
“kemana saja mas kok gak pernah sms?” tanyaku. “kamu kemana saja?” dia bertanya balik. “gak kemana-mana” “aku juga gak kemana-mana” terus kok gak sms atau main ke kos?” “sengaja” “sengaja biar apa?” “biar ada yang kangen” “kok tadi sms, sampean kangen ya?” “gak juga, kasian takut kamu mati kesepian, hahaha” jawabnya sambil tertawa, begitulah ujung-ujungnya setiap aku menggodanya, selalu aku yang akan kena batunya, entah dari mana jawaban-jawaban spontan itu dia dapat.
Sepertinya aku juga harus memastikan tentang kata-kata mas azka malam itu, “emang apa yang sampean bilang waktu itu beneran mas?” “yang mana?” “yang malam-malam itu” “gak inget, sudah lupa” “ahhh, beneran mas, serius” “yang bilang aku suka kamu?” aku mengangguk. “beneran” jawabnya ringan, “terus kenapa?” lanjutnya seolah tidak ada apa-apa. Sementara aku sudah hampir mati kaku memilih kata apa yang harus aku katakan. “aku juga benar kan kalau kamu suka aku?” tanyanya santai. Lidahku seperti kaku, mulutku seketika mejadi sulit untuk digerakkan, dan saking kencangnya detak jantungku aku seperti mendengat tiap detakannya dengan jelas. Dan akhirnya aku juga bisa mengangguk. Di hanya menoleh sebentar kemudian kembali menatap lurus ke depan. “terus kak ve sama iman gimana mas?” “emang kenapa sama mereka?” “aku gak mau nyakitin mereka mas” “aku juga, aku kan gak bilang kita harus pacaran meski kita sama-sama suka, lakukan saja apa yang buat kamu bahagia” “apa yang bisa buat sampean bahagia mas?” “bikin kamu bahagia” ucapnya pelan dan dengan nada yang sedikit di tekan, kali ini dia menatap dalam tepat di mataku, akunyaris tidak percaya pada apa yang ku lihat saat ini. “aku pengen bareng sampean terus mas, tapi aku gak mau nyakitin siapa-siapa” jawabku bimbang, aku tidak tahu harus senang atau sedih, di satu sisi aku senang karena mas azka, di sisi lain aku bingung apa yang harus aku lakukan agar aku tidak menyakiti kak ve dan iman. “tenang sajalah, dibawa santai saja, nanti juga waktu bakalan menunjukkan apa yang seharusnya kamu lakukan” jawab mas azka berusaha menenangkanku. “iya mas” jawabku. Mas azka menatapku, tersenyum, kemudian mengacak rambutku. Dia selalu begitu, dia selalu mengacak rambutku, meski itu selalu terhalang oleh kain jilbabku, entah kenapa dia suka melakukannya, persis seperti yang dilakukan kepada anak kecil, dan entah kenapa aku anggap itu caranya untuk menenangkanku, seolah dia memintaku untuk berpikir seperti anak kecil, yang berbahagia tanpa alasan, yang tersenyum tanpa pernah memikirkan hari esok, dan itu selalu berhasil.
****
Aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan iman, aku berhak memilih, aku sudah tidak mau lagi mengalah, sudah saatnya aku memilih kebahagiaanku. Aku sudah mengutarakan semua kebenarannya malam itu keteika iman mengajakku makan malam, aku tahu dia kecewa, aku tahu dia terluka, tapi aku pikir itu adalah yang terbaik buat kami, buat aku, buat iman dan juga buat mas azka, aku tidak mau terus-terusan bersembunyi, aku tidak bisa terus-terusan menghidangkan kebahagiaan yang pura-pura untuk iman, dan bukankah cinta itu adalah sebuah ikrar untuk membahagiakan orang yang kita cintai, setidaknya begitulah yang pernah dikatakan mas azka, aku percaya itu, aku percaya semua kata yang kerluar dari lisan mas azka, bahkan mungkin jika suatu saat nanti dia akan bilang bahwa dia adalah makhluk yang diutus dari planet lain ke bumi hanya untuk menjagaku aku pasti mempercayainya.
Semua yang dikatakannya semua yang dilakukannya terlihat istimewa di mataku, mungkin karena aku mencintainya, tapi memang demikian adanya dan siapapun kamu harus setuju denganku. Aku percaya kata-katanya melebihi semua pepatah ataupun kata-kata bijak, karena dia sudah membuktikan kalau kalau beberapa kata-kata mutiara itu salah, ada sebuah quote yang bilang ‘seorang wanita mampu menyembunyikan rasa cintanya bertahun-tahun tapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya meski sedetik’. Itu salah, aku dan kak ve tidak bisa menyembunyikan rasa cintaku terhadap mas azka.
Mas azka bukanlah sosok romantis yang selalu memujiku atau memanggilku dengan panggilan sayang, dia juga tidak selalu memanjakanku, sampai saat ini dia tidak pernah memanggilku sayang, tidak sms secara rutin seperti orang sakit minum obat, tapi dia selalu tepat, dia tahu kapan harus datang, dia tahu kapan aku membutuhkannya dan dia selalu tahu bagaiman memperlakukanku sebagai kekasihnya.
Aku kadang bingung bagaimana aku harus menjawab jika ada yang bertanya kapan kami jadian, karena kami tidak punya momen formal yagn dibilang jadian, mas azka tidak pernah menembakku, pernah aku menanyakannya karena pada dasarnya wanita butuh komitmen dan pengakuan. “mas memangnya kita pacaran ya?” “menurutmu?” “aku terserah sampean saja” “memang harus ya aku bilang cinta dan nanya kamu mau atau tidak jadi pacarku?” “gak juga sih mas” “aku tidak tahu kamu mau menganggapku sebagai apa, itu terserah kamu, yang aku tahu aku sayang sama kamu dan aku akan selalu berusaha membahagiakanmu, terlepas kamu menganggapku sebagai pacarmu atau tidak”. Dan aku hanya bisa diam, aku tidak mendapat jawaban yang ku harapkan tapi aku senang mendengarnya. “buat apa kita pacaran tapi setiap hari kita bertengkar dan Cuma bikin kamu sedih”, lanjutnya. Tanpa terasa airmataku berlinang mendengarnya. “selama aku amsih hidup, kamu tidak boleh sedih dan tidak boleh menangis lagi, janji?” ucapnya pelan sambil mengusap air mataku. Aku hanya mengangguk, kemudian dia mengacak rambutku yang tertutup jilbab seperti biasa.
Aku juga pernah bertanya kenapa dia tidak pernah memanggilku dengan panggilan “yang” “cinta” “honey” “sweetheart”, atau panggilan-panggilan sayang layaknya seorang kekasih kepada kekasihnya, “aku malu bilang gitu” katanya. “aku juga takut nantinya kamu bosan dan panggilan sayang itu menjadi kehilangan makna dan ruhnya karena menjadi tawar” lanjutnya. Dan lagi-lagi aku percaya dan setuju dengan jawabannya, aku juga tidak pernah protes lagi kalau dia tidak memanggilku seperti teman-temanku memanggil pacarnya. Setiap kesederhanaannya adalah sesuatu yang istimewa bagiku, dan aku beruntung memilikinya, aku beruntung dia berada dalam catatan hidupku. Dia mengajariku banyak hal, banyak sekali, meski umur kita hanya selisih beberapa bulan karena kita lahir di tahun yang sama tapi dia menepis anggapan bahwa pacaran atau hubungan dengan sebaya itu tidak akan bertahan lama, karena dia sangat dewasa.
****
‘seharian gak ada kabar, kayaknya gak ada yang kagen nih’, begitulah isi pesan setelah aku tekan tombol baca di ponselku, sms dari mas azka, aku membacanya sambil senyum-senyum. Aku mulai menekan tombol-tombol di ponselku untuk membalas sms darinya, ‘memang boleh kangen mas?’. ‘gak boleh, nanti ketagihan’ balasan darinya. ‘mas, manda kangeeeeennnnnn’ sengaja ku ketik begitu karena aku memang kangen dan aku juga mau menggodanya. ‘sudah tahu’ jawabnya singkat. Aku tertawa dan sedikit kesal. ‘mau ikut latihan futsal?’ sms-nya lagi sebelum aku membalas yang sebelumnya. ‘ikut mas’ balasku akhirnya. ’10 menit lagi aku jemput’. ‘oke’. Ku taruh ponsel dan mulai ganti baju. 10 menit kemudian kami berangkat ke kampus, ternyata yang lain belum ada yang datang, setelah memarkir motor mas azka memberikan jaketnya dan menyuruhku untuk memakainya “pakai saja biar gak masuk angin” katanya setelah melihatku tidak memakai jaket. Aku hanya memakai kaos lengan panjang malam itu. Aku tidak protes dan memakai jaket mas azka, jaket berinisial AA.
Rasanya ini saat yang tepat untuk menanyakan kepanjangan dari AA di dada jaket mas azka, karena semua anggota yang lain menaruh inisial nama mereka dan nama pacarnya jadi menurut analisaku A yang pertama adalah azka dan A yang kedua adalah nama pacar mas azka waktu itu yang mungkin secara kebetulah namanya berawalan huruf A juga, atau juga bisa AA adalah azka ayam atau ayam ayam, yang artinya itu mas azka dan kak ve karena mereka saling memanggil ayam.
“mas, AA ini kepanjangannya apa?” tanyaku. “ya namaku lah” jawabnya sambil mengencangkan tali sepatunya. “azka?” “iya” “A satunya lagi?” “azka aja, jadi gak ada nama lainnya, kenapa?” “gak apa-apa mas, penasaran saja” “penasaran kok terus” “hehehe” “apa perlu aku taruh namamu disitu?” “hehehe” “tapi jangan ah, taruhnya jangan disitu di dalam saja” “maksudnya mas?” “di dalam dada bukan disitu” jawabnya sambil menunjuk dada kirinya sambil tersenyum. Mungkin dia hanya bercanda dan itu hanya gombalan murahan, tapi aku senang mendengarnya dan aku juga senang melihatnya tersenyum.
“mau taruhan?” Bisik mas azka tiba-tiba setelah selesai pemanasan. “taruhan gimana mas?” “disini kan ada 3 kiper, kalau aku kemasukan lebih banyak dari salah satunya kamu menang tapi kalau aku kemasukan paling sedikit aku yang menang” aku berpikir sejenak dan kemudian aku iyakan karena aku tahu dalam setiap latihan mas azka akan melawan tim utama dan biasanya dia akan bermain dengan tim kedua atau ketiga, tujuannya agar dia bisa meningkatkan kemampuannya. “taruhannya apa mas?” “yang kalah nyuciin baju yang menang” “hahaha, oke”.
Sekitar jam sepuluh lewat latihan pun selesai dan hasilnya aku kalah, mas azka tertawa menggoda, aku pura-pura cemberut. “inem, jangan lupa cuciin baju majikan ya” bisiknya menggodaku. Aku mencubitnya sambil tertawa. Keesokannya saatnya membayar hutang, selesai kuliah mas azka menjemputku, aku membawa baju kotorku sekalian, lebih baik mencuci di kos mas azka karena tidak enak sama teman-teman kos jika mereka melihat ada baju cowok di jemuran, nanti malah dikiranya mas azka kelewatan sama aku. Tapi pada akhirnya kami mencucinya bersama-sama, aku memilih yang gampang, aku hanya mencuci kaos-kaso saja dan mas azka mencuci baju dan celana, apalagi kebanyakan celananya dari bahan jeans.
“wah ini mah namanya curang, aku kebagian yang lebih berat” serunya, aku hanya tertawa. Dan kami tidak Cuma mencuci, kami juga perang air, siram-siraman, lempar-lemparan busa, pokoknya seru. Hari-hariku selalu indah dengan hadirnya sosok mas azka.
****

namun jangan pikir aku tak pernah kesal, tak pernah dibuatnya jengkel, tak pernah merasa sedih karena ulahnya. salah, aku dan mas azka hanya manusia normal, atau mungkin aku saja yang manusia, tapi dengan segala keajaibannya mas azka selalu mampu kembali membuatnya tersenyum, itulah dia, itulah kenapa dia spesial, itulah yang membuatnya spesial. azka, azkaku. aku ingin dia menjadi azkaku saja, mungkin terdengar sangat otoriter dan egois, tapi aku tidak peduli.

ada segudang hitam di balik semua putih mas azka, diapun punya kekurangan, punya kejelekan, dia tak sempurna, dia bukan superman yang perkasa, berambut klimis berpakaian rapi dan pembasmi kejahatan. mas azka keras kepala, jarang mandi, kadang terburu-buru dan ceroboh, tidak romantis, kadang terlalu cuek, jarang mandi tapi beruntung dia bukan orang yang bau badan jadi masih aman-aman saja, dan kadang dia juga membuatku cemburu, ada dua hal yang paling membuatku cemburu; pertama, kak ve, kenapa? karena matanya selalu berbinar saat ada sesuatu yang berkaitan dengan kak ve, misalnya ketika mas azka dapat sms dari dia, misalnya ketika aku ledekin dia tentang hubungannya dengan kak ve, bukannya memberiku kata-kata manis malah dia akan dengan sengaja bilang “ciye ada yang cemburu, sepertinya bakalan ada perang saudara nih” yang sesaat kemudian dia akan tertawa, lebih tepatnya menertawakanku. hal kedua; hobi menulisnya. bukannya aku tidak suka dia menulis, tetapi lebih pada aku merasa jengkel karena saat dia nulis maka aku hanya akan jadi salah satu barang pajangan terfavorit di kamarnya yang hanya sejenak-sejenak dia lirik, dan aku tidak suka itu. aku akui itu akan sedikit terdengar aneh, tapi itu wajar saja kalau kalian juga berpikir kalian diduakan dengan siaran langsung sepak bola, atau game dota. namun aku jadi malu ketika aku tahu sebuah fakta tentang tulisannya yang membuatku rela jadi barang pajangan di kamarnya.

pernah sekali aku tanyakan, sebenarnya aku sudah kesal makanya aku berani menanyakannya, menanyakan kenapa dia suka menulis. “mas, sejak kapan nulis?” “sejak SD” jawabnya tanpa menoleh. “sejak SD?” tanyaku mengejar. “iya, nulis ini ibu budi, hehehe” “hahaha” aku ikut tertawa, sedikit lupa akan kekesalanku. “memang nulis apa saja mas?” “apa saja yang ingin aku tulis” “kok tulisannya lumayan bagus?” “lumayan?” ujarnya seolah kaget mendengar jawabanku, “iya deh bagus” jawabku mengakui, dan aku jujur memang tulisan mas azka itu bagus, dan penilaian itu terlepas dari aku suka dia atau tidak aku akan tetap menjawab yang sama jika disuruh menilai tulisannya. “ah tidak, aku pikir lumayan sudah cukup kok” ujarnya datar, “semua tulisan bagus diawali dari yang jelek, semua orang yang menulis pasti pernah menulis tulisan yang tidak bagus, tetapi mereka tidak berhenti di titik itu, tidak berhenti sampai mereka berhasil menulis tulisan yang bagus, atau setidaknya lumayan” lanjutnya. “kalau puisi?” tanyaku lagi, “maksudnya?” mas azka menoleh dengan kening berkerut. “bagaimana cara menulis puisi yang bagus?” aku menjelaskan maksud pertanyaanku.” puisi itu kegelisahan yang disamarkan tirai kata, tambahkan saja sedikit bumbu, nanti juga bagus”. “bumbu?” tanyaku tak mengerti maksudnya. ” luka dan airmata” seketika pandangan mas azka seolah kosong, seolah hayalnya berlarian dari ruangan ini, seolah dia tak seutuhnya disini. “tulis tentang aku ya”. sepertinya aku mengagetkannya, membangunkan dari hayalnya. “gak mau”. “kenapa?” “gak mau saja”. “kalau tentang kita?” “mungkin, tapi gak janji” ‘kenapa?” “ada hal-hal yang hanya ingin kita simpan sendiri”. “selama ini apa saja yang sudah ditulis?”. ‘tentang aku”. “tentang sampean saja?” “iya” “ada aku gak disana?” “ada” jawabnya sesuai yang aku harapkan. seketika mas azka menoleh, menatap tepat di mataku, tajam namun menghangatkan. “kamu nafasnya, kamu jiwanya” lanjutnya, jawaban yang membuatku melambung tinggi, terbang dalam kebahagiaan. “berarti kalau aku tidak ada sampean mati?” “mayat hidup lebih tepatnya” “aku akan selalu ada buat sampean, ahar kamu tetap hidup, aku gak mau kamu jadi mayat hidup” “terima kasih” kemudian mas azka mengelus kepalaku seperti biasanya. aku tersenyum mengangguk.

“memang kenapa suka nulis?” tanyaku lagi. ‘karena gak bisa nyanyi” jwabnya sambil tersenyum menggoda. “sampai kapan mau nulis?” “sampai bisa melukis” “memangnya bisa?” “gak bisa, hahaha” “hahaha”.

mas azka selalu terlihat serius ketika menulis, dan aku selalu menggodanya agar aku tidak dicuekin, “aku gak suka sampean nulis saat aku disini” protesku. “aku juga gak suka kamu disini kalau aku lagi nulis” jawabnya membalikkan statemenku. ‘tulisanku jadi lama selesainya” lanjutnya. “kenapa? karena aku ganggu?” tanyaku kesal. ‘bukan, karena kamu selalu memberi nafas baru, jadi tak pernah kehabisan kata, terimakasih ya” jawabnya sembari tersenyum, senyum yang hangat. aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum juga.

****

seminggu ini aku selalu disibukkan dengan kepanitiaan kompetisi futsal yang akan segera dilaksanakan, ya, kampus kami mengadakan kompetisi futsal tingkat provinsi, aku sibuk, dan itu mengurangi intensitas kebersamaanku dengan mas azka, kadang seharian penuh kami tak bertemu, pasalnya dia pun juga sibuk latihan, mempersiapkan tim sebaik mungkin, karena juara adalah target yang dipasang pelatih, dan itu juga menjadi harapan kami semua, secara kami akan bertindak sebagai tuan rumah, dan tentunya kami tidak mau kecolongan di kandang sendiri, tidak mau tim manapun mempermalukan kami di rumah kami sendiri.

sesekali aku mendatanginya ke lapangan, hanya sekedar untuk melihatnya latihan, sekaligus mencari udara segara setelah berhadapan dengan tugas sebagai ketua panitia yang memakan hampir seluruh konsentrasiku. dan aku bersyukur, selalu bersyukur, karena mas azka selalu mengerti aku, dia tidak pernah menuntut apa-apa, dia tidak akan marah hanya karena aku tidak punya waktu luang untukku, mungkin satu-satunya saat dia marah saat aku tidak mau makan dan kurang istirahat karena terlalu sibuk dengan kepanitiaan ini, dan aku mengerti itu lebih pada rasa khawatirnya karena tidak mau orang yang dia sayangi sakit, aku mengerti itu, jadi saat dia mulai marah aku langsung minta maaf dan langsung makan makanan yang biasanya dia bawakan.

hari pelaksanaan pun telah tiba, tiga puluh dua tim sudah terdaftar sebagai peserta, kami sebagai tuan ruma memiliki slot untuk dua tim, jadi ada dua tim kampus kami yang akan bertanding kali ini, di tim utama seperti biasa ada mas azka, mas wahyu dan kawan-kawan. acara berjalan sesuai rencana, meski kadang ada kendala sana-sini yang seringkali membuaku kerepotan, tapi semuanya masih bisa diatasi dan acara masih bisa berjalan sesuai rencana awal.

tim kami dua-duanya berhasil melangkah ke babak semi final, dan pagi ini tim utama akan bertanding, sedangkan tim kedua akan bertanding besok. semalam aku dan mas azka masih makan bersama, tapi aku melihat ada yang aneh dengannya, dia lebih sering termenung, aku tidak tahu kenapa, “mikirin pertandingan besok ya mas?” tanyaku membuyarkan lamunannya. “hemm, iya” ujarnya dengan nafas yang sedikit berat. “sampean pasti bisa kok mas” kataku berusah memotivasinya sambil memegang tangannya. “iya” jawabnya lirih dengan sedikit senyum yang terasa hambar. beberapa saat kemudian dia mengantarkanku ke kos karena aku paham betul dia akan tidur sebelum jam sepuluh malam kalau besoknya ada pertandingan. ‘semangat mas, pasti menang, selamat tidur mas’ sepatah kalimat yang aku kirim lewat sms sebelum aku tidur.

****

mas azka dan teman-teman yang lain sedang pemanasan saat aku tiba di GOR kampus, tadi pagi dia memang mengajakku berangkat bareng, tapi aku belum siap jadi aku memutuskan untuk berangkat sendiri ke kampus, aku tahu mas azka tidak mungkin menungguku karena dia harus datang terlebih dahulu untuk mempersiapkan pertandingan dengan para pemain lainnya. mas azka hanya menoleh ke arahku sebentar yang aku balas dengan senyuman sebelum kemudian meanjutkan pemanasan. aku juga melanjutkan kerjaanku bersama rekan-rekan panitia lainnya.

beberapa menit kemudian semua pemain sudah berada di lapangan, karena pertandingan akan segera dimulai. setelah bersalaman dengan pemain lawan dan wasit, mas azka masih berada di tengah lapangan dengan wasit dan kapten tim lawan, koin tos kami menangkan dan mas azka memilih lapangan, jadi kick off pertama milik pemain lawan, setelah memberi intruksi para pemain untuk berkumpul dan berdoa bersama mas azka berlari ke gawangnya dan wasit pun meniup peluit tanda pertandingan dimulai.

pertandingan berjalan seru dan dominasi permainan dipegang mas azka dan kawan-kawan, menjelang berakhirnya babak pertama mas roni menjadikan keunggulan tim menjadi 2-0 setelah lima menit sebelumnya mas wahyu membuka gol pertama bagi tim kami, mas azka masih mampu menjaga gawangnya agar tak dibobol lawan. keunggulan 2-0 bertahan sampai paruh babak pertama selesai, dan para pemain keluar lapangan dengan wajah berseri-seri, para official tim dan pemain penggantipun menyambut mereka dengan senyuman di pinggir lapangan seraya melemparkan air minum. di sela-sela kesibukanku sebagai ketua panitia yang bertugas memastikan semuanya berjalan baik dan tidak ada kendala aku masih menyempatkan diri melihat mas azka di pinggir lapangan, namun aku merasakan keanehan, dia tidak seperti biasanya, aku merasa ada yang salah, matanya kosong, sedikit terlihat gundah dalam raut mukanya, dan aku tidak tahu kenapa, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa agar semuanya baik-baik saja.

baru lima menit pertndingan babak kedua dimulai tiba-tiba terdengar suara jeritan melengking, aku kenal betul suara itu, itu suara mas azka, aku pun segera meninggalkan kerjaanku dan berlari ke pinggir lapangan, ku lihat mas azka mengerang memegangi pergelangan kakinya. “kenapa mas?” tanyaku panik kepada mas ivan. “benturan dengan nomer 10” ujar mas ivan sambil menunjuk pemain lawan dengan nomer punggung 10. tim medis pun segera berlari dan menandu mas azka ke pinggir lapangan, aku menyusul di belakangnya, mas azka masih mengerang sambil menutup mukannya saat tim medis meluruskan kakinya, wasit menghentikan pertandingan dan memanggil pelatih kami meminta agar segera memasukkan pemain pengganti, aku mendekati mas azka dan memegang tangannya, aku tidak bisa berkata apa-apa, aku sungguh tidak tahu apa yang harus aku lakukan, akhirnya aku menggenggam tangannya berusaha menguatkanku, mas azka masih merintih dengan tangan satunya lagi masih menutup mukanya. dan mas azka mulai tenang saat tim medis menyemprotkan semprotan pereda nyeri, aku segera mengambil es batu kemudian memasukkannya dalam handuk dan mulai mengompres kaki mas azka yang sudah mulai bengkak. kemudian mas azka duduk, dengan senyum yang dipaksakan melihat ke arahku.

“tolong hubungi darma suruh kesini sekarang” ujarnya pelan. “iya mas” jawabku segera mengeluarkan ponsel da menghubungi mas darma. “sudah, aku gak apa-apa kok, kamu lanjutin aja kerjaannya” ujar mas azka berusaha menenangkanku sambil mengambil handuk yang aku kompreskan ke kakinya. “ada mbak aida kok mas” jawabku. “yasudah duduk disini aja” ujarnya sambil menepuk lantai di sebelah kirinya, isyarat memintaku untuk duduk disitu. “iya mas” jawabku seraya berpindah ke sampingnya.

mas irul masuk mengantikan mas azka, dan akhirnya pertandingan kami memenangkan pertandingan dengan skor 4-1. dan pertandingan final baru akan dilangsungkan dua hari kemudian. tapi sepertinya mas azka belum bisa bermain.

mas azka sudah meninggalkan GOR beberapa saat lalu bersama mas darma, aku membantu mas darma memapahnya sampai ke tempat parkir, aku berencana ikut bersama mereka tapi mas azka melarangku karena tugasku disini masih banyak. aku mengangguk saat dia pamit dan aku masih berdiri sampai punggungnya hilang di tikungan, barulah aku kembali ke dalam untuk melanjutkan tugasku, aku ingin segera menyelesaikan semuanya agar aku bisa segera ketemu mas azka dan tahu tentang keadaannya.

****

(bersambung)

namialus’ quotes

Posted in reality on December 31, 2013 by namialus

1. kalau ibumu tak bangga dengan dirimu, ada dua kemungkinan, dia bukan ibumu, atau kau bukan anaknya.

2. banyak orang indonesia yang miskin, itu karna mereka tidak tahu apa yang ada di tanahnya.

3. kadang mulut dan perut saja tidak bisa sepakat, apalagi dengan dompet.

4. bersama keluarga, kadang harus kau menbayar sangat mahal untuk bisa melakukannya.

5. kalau orang yang kau sayang sudah bahagia bersama orang yang dia sayang, jangan diam saja, pergi jauh.

6. jika tuhan tak menciptakanku untuk bersamamu, satu-satunya alasan lainnya adalah untuk membuatmu tetap tersenyum.

7. memastikan mimpimu terwujud adalah mimpiku.

8. aku tidak betah disini, Amerika dingin, keluargaku sangat hangat.

9. ketiklah beberapa kalimat, maka kau akan menemukan kesalahan disana, kesalahan pasti kita berbuat, tapi kita hanya perlu mengoreksi dan membenarkannya, bukan berhenti menulis, begitu pula hidup.

10. akan selalu ada pilihan terbaik, bahkan disaat terburuk.

11. kalau seseorang terlalu sibuk lantas tak sempat memikirkanmu, itu wajar. dan kalau kau tetap tak pernah punya kata sibuk untuknya, itu juga wajar.

12. berhati-hatilah saat kau senang, karna waktu berputar lebih cepat kala itu.

13. dewasa itu bukan tentang berapa banyak waktu yg sudah kau habiskan, melainkan tentang seberapa banyak yang sudah kau pelajari.

14. semakin lama kau berpacaran hanya menunjukkan seberapa bodohnya kamu.

15. jangan kau bangga karna kau masih muda karna suatu saat kau akan menyesal kalau kau tidak bisa jadi orang tua.

16. seorang pria lebih menyukai matahari terbenam daripada matahari terbit, sedangkan wanita kebalikannya.

17. kau boleh menyebut paris, roma, atau kota manapun sebagai tempat terindah menurutmu, bagiku desaku tetap lebih indah, selama senyum ibuku masih disana.

18. nilai satu milikku lebih baik daripada nilai sepuluh tapi milik satu kelas.

19. “apapun yang kamu pasti aku penuhi selama aku mampu”, hanya wanita bodoh yang percaya pada kata-kata itu.

20. usia akan bisa membuatmu melihat orang jahat menjadi baik.

21. saat usiamu sudah jatuh tempo kau akan memilih orang yang biasa sebagai pasanganmu, dan kau baru menyadari kau telah melewatkan orang-orang yang luar biasa.

22. jangan kau pamerkan semua hartamu di depanku jika kau tak mendapatkannya dengan keringatmu sendiri karna aku hanya akan menertawakanmu.

23. jangan salah, aku menjadi berandalan bukan karna aku frustasi, aku cuma tak mau kau menyesal dengan pilihanmu, karnanya aku menjadikan diriku tak pantas untukmu.

24. semua orang tua ingin memanjakan anaknya, hanya saja kadang mereka tak bisa.

25. tuhan itu selalu adil, bahkan kepada mereka yang tak adil.

26. orang paling keren adalah orang yang bisa menyeimbangkan kesenangan, kewajiban dan keinginan.

27. kau boleh lahir dari keluarga mampu, tapi anakku takkan kalah keren dari anakmu.

28. istriku haruslah seorang wanita, urusan sholehah bolehlah dinomer duakan.

29. mereka yang menganggap ibumu seorang yang hebat, adalah saudaramu yang tak serahim.

30. kalau kau melihat 3 bintang sejajar maja impianmu akan terwujud, asal kau mau usaha, hahaha. .

31. kau boleh sombong menceritakan kejayaanmu pabjang lebar, padahal jika kau bercerita tentang dosamu, waktu seumur hidupmu takkan pernah cukup.